Perubahan Iklim, 11 Negara Alami Instabilitas Ekstrem

Washington, Beritasatu.com- Sejumlah 11 negara dapat mengalami instabilitas ekstrem akibat perubahan iklim. Prediksi itu terungkap dari Laporan Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS), yang mengawasi 18 badan intelijen negara.

Seperti dilaporkan CNBC, Selasa (30/11//2021), laporan Estimasi Intelijen Nasional yang pertama tentang Perubahan Iklim itu memperingatkan bahwa “perubahan iklim akan semakin memperburuk risiko terhadap kepentingan keamanan nasional AS.” Laporan tersebut menyebutkan 11 negara yang rentan terhadap instabilitas geopolitik akibat perubahan iklim.

Laporan intelijen AS menambahkan 11 negara kemungkinan besar kekurangan sumber daya keuangan dan kapasitas tata kelola untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Menurut laporan itu, Afghanistan, Myanmar, Kolombia, Guatemala, Haiti, Honduras, India, Irak, Nikaragua, Korea Utara, dan Pakistan kemungkinan akan menghadapi serangkaian episode cuaca ekstrem yang mengancam keamanan energi, makanan, air, dan kesehatan.

Baca Juga: Perubahan Iklim Picu Cuaca Ekstrem di Selandia Baru

“Berkurangnya ketahanan energi, pangan dan air di 11 negara kemungkinan akan memperburuk kemiskinan, ketegangan antarsuku atau etnis dan ketidakpuasan terhadap pemerintah, meningkatkan risiko instabilitas sosial, ekonomi, dan politik,” kata laporan dari Kantor Direktur Intelijen Nasional, yang mengawasi 18 badan intelijen negara.

Secara lebih umum, “efek fisik yang semakin intensif akan memperburuk titik nyala geopolitik, terutama setelah 2030, dan negara-negara dan kawasan utama akan menghadapi peningkatan risiko ketidakstabilan dan kebutuhan akan bantuan kemanusiaan,” kata laporan itu.

Laporan tersebut menguraikan sejumlah skenario yakni : Meningkatnya suhu dan meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan wabah penyakit nyamuk dan diare di negara-negara Asia Selatan dan Amerika Tengah, memperburuk hasil kesehatan dan menyebabkan hilangnya nyawa.

Baca Juga: Akibat Perubahan Iklim, Madagaskar di Ambang Kelaparan

Siklus yang lebih sering dan intens yang cenderung mencemari sumber air, dengan model ilmiah menunjukkan kejadian demam berdarah kemungkinan akan meningkat di Afghanistan, Guatemala, Haiti, Honduras, India, Irak, dan Pakistan.

Perubahan iklim kemungkinan akan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati yang mengarah ke lebih banyak kepunahan tumbuhan dan hewan yang tidak dapat lagi bertahan hidup di habitat lama dan mempertaruhkan ekosistem yang diandalkan populasi global untuk makanan dan obat-obatan.

Musim kemarau yang berkepanjangan diikuti oleh curah hujan yang berlebihan telah menghancurkan tanaman jagung dan kacang-kacangan di Amerika Tengah. Hasil panen ini dan tanaman lainnya di Guatemala, Honduras, dan Nikaragua diproyeksikan menurun secara signifikan, meningkatkan prospek kerawanan pangan dan penurunan komoditas ekspor penting.



Penulis: Unggul Wirawan / WIR
Sumber: BeritaSatu.com

#Perubahan Iklim #Instabilitas Ekstrem #Amerika Serikat #Geopolitik #Cuaca Ekstrem

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

East Ventures Berpartisipasi dalam Pendanaan Inteluck US$ 15 Juta

Kapolri Sambut Baik Penandatanganan Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura

Raih Pendanaan US$ 72 Juta, Darwinbox Kini Jadi Unicorn

Hoax, Permen Yupi Terbuat dari Minyak Babi

Kapuas Prima Coal Incar Penjualan Bertambah US$ 43 Juta

Kembangkan Layanan, Bank Aladin Dilatih Tim Google

Optimistis Pandemi Berlalu, Komunitas Sepak Bola Gelar Nobar Keliling

IPO, Saham Net TV Tercatat di BEI

IHSG Berbalik Melemah di Akhir Sesi I

Sudah Lebih 10.000 Kasus, Ini yang Baru Diketahui tentang Subvarian BA.2

BERITA TERPOPULER