Houthi Tolak Gencatan Senjata, Kekerasan di Yaman Meningkat

Alexandria, Beritasatu.com- Aksi kekerasan meningkat di Yaman sepanjang akhir pekan karena pemberontak Houthi menolak seruan untuk gencatan senjata. Seperti dilaporkan Arabnews, Sabtu (31/7/2021), eskalasi militer Houthi terjadi ketika Amerika Serikat (AS) menegur kelompok itu karena menyerang Marib dan menolak upaya perdamaian untuk mengakhiri perang.

Puluhan pejuang, termasuk seorang komandan pemerintah, tewas dalam 48 jam terakhir dalam pertempuran antara pasukan dan Houthi di provinsi Marib, Lahj, Shabwa dan Al-Bayda. Pemberontak Houthi meningkatkan serangannya di daerah yang dikuasai pemerintah.

Pertempuran terberat dilaporkan di Marib, tempatpasukan menggagalkan serangan milisi di daerah-daerah di luar kota Marib dan mengklaim keuntungan terbatas di distrik Al-Rahabah.

Pada Sabtu (31/7), tentara Yaman berduka atas kematian Brigjen. Abad Ahmed Al-Hulaisi Al-Muradi, yang terbunuh saat memerangi Houthi di daerah yang diperebutkan di selatan kota Marib.

Baca Juga: Setelah 6 Tahun, Yaman Buka Kembali Bandara Utama

Eskalasi militer Houthi terjadi ketika AS menegur kelompok itu karena menyerang Marib dan menolak upaya perdamaian untuk mengakhiri perang.

Pada Jumat (30/7), Departemen Luar Negeri AS menegaskan kembali misi perjalanan utusan khusus AS untuk Yaman, Tim Lenderking ke Arab Saudi. Lenderking menyerukan diakhirinya pertempuran di Marib dan di seluruh Yaman, yang hanya meningkatkan penderitaan rakyat Yaman.

Lenderking menyatakan keprihatinan bahwa Houthi terus menolak untuk terlibat secara berarti dalam gencatan senjata dan pembicaraan politik.

Muin Shreim, penjabat utusan khusus Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Yaman, yang juga mengakhiri kunjungan singkat ke Riyadh pada hari Jumat, mendesak pihak-pihak untuk menghentikan operasi militer di Yaman dan Arab Saudi dan melanjutkan pembicaraan di bawah rencana perdamaian yang ditengahi PBB.

Baca Juga: Yaman Bom Kilang Arab Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 70

“Ini adalah kunci untuk mengurangi ancaman terhadap warga sipil, meringankan situasi kemanusiaan yang mengerikan dan membuka jalan bagi perdamaian yang berkelanjutan, komprehensif dan adil serta untuk rekonsiliasi dan pemulihan di Yaman,” kata Shreim.

Seorang pakar mengatakan pemberontak Houthi telah mengintensifkan operasi militer untuk menguasai wilayah baru dan meningkatkan posisi tawar mereka.

“Houthi menanggapi inisiatif dan gerakan PBB dan internasional dengan memperluas (militer) untuk mendapatkan lebih banyak poin kekuatan dan memaksakan fakta di lapangan,” ujar Ali Al-Fakih, editor Al-Masdar Online, kepada Arab News.



Penulis: Unggul Wirawan / WIR
Sumber: BeritaSatu.com

#Yaman #Houthi #Amerika Serikat #Arab Saudi #PBB

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Maman: Beragama dan Bernegara dalam Satu Napas NKRI untuk Lawan Ideologi Transnasional

Sidang Perdana Perkara Suap 2 Eks Pejabat Ditjen Pajak Tunggu Jadwal Pengadilan

PPK Kemayoran Konsisten Memanfaatkan Wisma Atlet sebagai Satu RSD Covid-19

Mengejutkan, Conor McGregor Bisa Kembali Naik Octagon Akhir Tahun Ini

Jawa Barat Ekspor Ubi Jalar ke Pasar Singapura

Jadi Pusat Vaksin Global, Puan: Indonesia Dapat Banyak Manfaat

Keberagaman di Indonesia Anugerah dari Tuhan

Pakar: Vonis Gugatan Polusi Udara Jakarta, Bukan Solusi Perbaiki Lingkungan

Masterpiece Auction Lelang Karya-karya Maestro Asia Tenggara

Wagub DKI: Kelanjutan Bansos Tunai Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat

BERITA TERPOPULER