Inflasi Pabrik Tiongkok Capai Level Tertinggi dalam 25 Tahun

Beijing, Beritasatu.com - Inflasi pabrik Tiongkok mencapai level tertinggi dalam seperempat abad karena melonjaknya biaya komoditas bulan lalu. Rilis angka Kamis (14/10/2021) menambah kekhawatiran bahwa harga yang lebih tinggi dapat berdampak ke rantai pasokan dan ke dalam ekonomi global.

Pembukaan kembali dari lockdown di seluruh dunia telah meningkatkan permintaan energi, bersamaan dengan persediaan yang rendah. Hal ini diperburuk oleh upaya pemerintah Tiongkok untuk memenuhi tujuan lingkungan dengan memangkas target emisi.

Indeks harga produsen (PPI) yang mengukur biaya barang di gerbang pabrik mencapai 10,7%, kata Biro Statistik Nasional (NBS), menandai lompatan terbesar dalam datanya sejak Oktober 1996.

Indeks tersebut telah mencapai level tertinggi selama 13 tahun pada Agustus 2021. Hal ini mencerminkan lonjakan harga komoditas dan menumpuknya tekanan pada bisnis.

Banyak pabrik terpaksa menghentikan operasinya karena pemadaman listrik yang disebabkan oleh target pengurangan emisi, melonjaknya harga batu bara, dan kekurangan pasokan.

Pihak berwenang Tiongkok sejak itu memerintahkan tambang untuk memperluas produksi. Perusahaan energi diberitahu untuk memastikan ada pasokan bahan bakar yang memadai untuk musim dingin.

"Pada September, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kenaikan harga batubara dan beberapa produk industri padat energi, kenaikan harga produk industri terus meningkat," kata ahli statistik senior NBS Dong Lijuan dalam sebuah pernyataan, Kamis.

Dong menambahkan bahwa di antara 40 sektor industri yang disurvei, 36 sektor mengalami kenaikan harga termasuk pertambangan batu bara, yang mengalami kenaikan 74,9%.

Untuk saat ini, ada beberapa tanda kekurangan listrik yang mempengaruhi harga barang-barang konsumen jadi, kata Sheana Yue, asisten ekonom di Capital Economics.

Indeks harga konsumen (CPI) yang adalah ukuran utama inflasi ritel mencapai 0,7% pada September, sedikit turun dari rilis Agustus.

Baca Juga: Ekspor Tiongkok Melonjak di Tengah Pembatasan Pasokan Listrik

Tetapi Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, memperingatkan bahwa dengan harga melonjak dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan, risiko stagflasi meningkat di Tiongkok serta seluruh dunia.

"Tujuan ambisius netralitas karbon menempatkan tekanan terus-menerus pada harga komoditas, yang akan diteruskan ke perusahaan hilir," tambah Zhang.

Pemerintah Tiongkok telah menetapkan target untuk mencapai emisi karbon puncak pada 2030 dan menjadi netral karbon pada 2060.

Ketika pihak berwenang mencari cara untuk meredakan krisis energi, para ekonom memperingatkan risiko memburuknya inflasi pabrik.

Kabinet negara itu, Dewan Negara, mengatakan bulan ini bahwa harga listrik akan diizinkan naik hingga 20% terhadap patokan atau dua kali lipat tingkat batas saat ini. Kondisi ini membantu produsen listrik mencatat keuntungan untuk meningkatkan pasokan.

Tetapi langkah seperti itu menambah tekanan inflasi, membuat pihak berwenang dengan tugas rumit mencoba menjinakkan harga sementara juga perlu meningkatkan ekonomi yang lesu. Data produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga akan dirilis minggu depan.

Ahli strategi senior Tiongkok ANZ Research Zhaopeng Xing mengatakan langkah pembatasan harga listrik kemungkinan akan meningkatkan PPI utama. Ia juga memperingatkan proyeksi September tidak akan menjadi puncaknya, serta memperkirakan angka yang lebih tinggi akan terjadi pada Oktober atau November.

Yue, bagaimanapun, memperkirakan inflasi gerbang pabrik akan moderat. "Harga batubara dan logamkemungkinan akan turun kembali karena konstruksi properti melambat," ungkapnya.

Para analis sebelumnya memperingatkan pukulan yang membayangi dari krisis listrik pada aspek lain dari ekonomi Tiongkok seperti perdagangan luar negeri, sementara gangguan pasokan mungkin akan menyaring rantai pasokan.

Itu terjadi ketika bank sentral di seluruh dunia mulai mengurangi kebijakan moneter uang longgar yang diberlakukan pada awal pandemi. Ini yang merupakan kunci untuk mendukung ekonomi, tetapi sekarang mendorong kenaikan inflasi.

Kekhawatiran tentang sektor properti Tiongkok juga membuat bank sentral Tiongkok (PboC) memompa lebih banyak uang ke pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah telah berusaha untuk menghentikan risiko limpahan dari raksasa real estat Tiongkok Evergrande yang tertatih-tatih, yang terjebak dalam rawa utang senilai US$ 300 miliar.



Penulis: Grace El Dora / LES
Sumber: Investor Daily

#Tiongkok #Pabrik Tiongkok #Inflasi #Pengurangan Emisi

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Program Cetak Sawah Libatkan TNI AD Gagal, Ini Pandangan Pengamat

Polisi Sudah Periksa 5 Orang Terkait Kecelakaan Bus Transjakarta

Pemerintah Dorong Digitalisasi untuk Akselerasi Pemulihan UMKM

DKI Kembali Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik

Adhi Karya Terima Financial Close Rp 420 Miliar untuk Preservasi Jalintim Riau

Ekonomi Jakarta Mulai Pulih, Anak Buah Anies Usulkan Rancangan APBD 2022 Senilai Rp 80,15 Triliun

KPK Patahkan Klaim Azis Syamsuddin Pinjami Uang Stepanus Robin untuk Pengobatan Covid-19

Priscilla Hertati Jagokan Stamp Fairtex Menangkan Grand Prix

Musim Penghujan Kabupaten Bogor Keadaan Awas Bencana

Kembali Digugat PKPU, Ini Tanggapan Garuda Indonesia

BERITA TERPOPULER