Iran Nyatakan Tuntutan Kesepakatan Nuklir

Teheran, Beritasatu.com- Pemerintah Iran telah menyampaikan dua rancangan teks yang berisi proposal Iran tentang penghapusan sanksi dan pembatasan nuklir. Seperti dilaporkan Xinhua, Jumat (2/12/2021), proposal itu telah disampaikan kepada para pihak dalam perjanjian nuklir 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Joint Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA).

“Logikanya, pihak lain sekarang harus memeriksa dokumen-dokumen ini untuk bersiap-siap melakukan pembicaraan serius dengan Iran mengenai teks-teks itu,” kata Kepala negosiator Iran, Ali Bagheri Kani kepada media Iran di ibu kota Austria.

Bagheri Kani menyuarakan harapan bahwa pihak JCPOA akan dapat meninjau rancangan Iran dan mencapai kesimpulan tentang Iran "dalam waktu sesingkat mungkin."

Bagheri juga memperingatkan tentang upaya non-pihak dalam perjanjian untuk menggagalkan pekerjaan diplomatik saat ini untuk menghidupkan kembali kesepakatan.

Sebelumnya pada hari itu, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mendesak "penghentian segera negosiasi" dengan Iran. Dia mendesak "implementasi langkah-langkah keras oleh kekuatan dunia" terhadap Iran dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Baca Juga: AS Bergabung dalam Pembicaraan Nuklir Iran

Pada Senin, media Israel melaporkan pemerintah Israel telah menghubungi pejabat AS dan Eropa selama dua minggu terakhir untuk memberikan dugaan intelijen bahwa Iran akan mengambil langkah-langkah untuk memperkaya kemurnian uranium pada tingkat senjata.

Rafael Grossi, kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pada hari Rabu menolak klaim bahwa Iran akan memperkaya uranium pada tingkat kemurnian 90 persen, mencatat bahwa IAEA adalah satu-satunya lembaga pemantau yang hadir di situs nuklir Iran.

“Tidak ada pengayaan 90 persen saat ini di Iran. Anda memiliki pengayaan lima persen, Anda memiliki pengayaan 20 persen, Anda memiliki pengayaan 60 persen. tetapi kami tidak memiliki informasi tentang pengayaan 90 persen,” kata Grossi dalam wawancara dengan TV pemerintah Prancis.

Baca Juga: Pembicaraan Nuklir Iran Molor

Dalam sambutan kepada pers pada Kamis, Bagheri memperingatkan rekan-rekan JCPOA-nya pada hari Rabu tentang "pandangan dan pendekatan para aktor di luar pembicaraan untuk memengaruhi proses negosiasi secara negatif."

Putaran pembicaraan JCPOA saat ini dilanjutkan minggu ini di Wina setelah jeda hampir enam bulan, sekitar tiga bulan setelah pemerintah Iran saat ini menjabat pada akhir Agustus.

Perwakilan dari Iran dan kelompok P4+1, yaitu Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia plus Jerman, serta Uni Eropa, sedang mencari kesepakatan tentang cara menghapus sanksi AS terhadap Iran, sebagai imbalan untuk penerapan kembali pembatasan dan meningkatkan pemantauan internasional pada program nuklir Iran.



Penulis: Unggul Wirawan / WIR
Sumber: BeritaSatu.com

#Iran #Kesepakatan Nuklir Iran #Austria #Israel #Sanksi AS

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Bentrok di Maluku Tengah, 1 Polisi Alami Luka Tembak

DPP PDIP Tak Pecat Arteria Dahlan, Ini Alasannya

30 Tahun Berselisih, Arab Saudi dan Thailand Pulihkan Hubungan Diplomatik

Epidemiolog: Negara Perlu Perkuat Pembatasan Sosial Cegah Peningkatan Covid-19

Jadi Calon Tunggal, Tedros Bakal Lanjutkan Pimpin WHO

Masyarakat Bekasi Bentuk Malidi sebagai Garda Terdepan Tumpas Hoax

Jaga Kerahasiaan Pengguna, Aplikasi Teman Diabetes Raih Sertifikasi

Mustika Ratu Harapkan Insentif Pengembangan Industri Ekstraksi

Tahapan Pemilu 2024

KPK: Korban Kerangkeng Bupati Langkat Mengaku Pekerja Sawit

BERITA TERPOPULER