Varian Omicron Mengancam Pemulihan Ekonomi Dunia

Jakarta, Beritasatu.com - Para ilmuwan dunia dan para ahli virologi masih belum memastikan seberapa besar ancaman yang ditimbulkan dari varian baru Covid-19, Omicron. Meskipun demikian, banyak otoritas negara sudah mengambil kebijakan pembatasan perjalanan internasional.

Setelah 27 negara mendeteksi, per 3 Desember 2021, Omicron diprediksi mengancam perekonomian dunia yang sedang dalam pemulihan.

Varian B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. Sejauh ini, banyak laporan memang menyebut varian Omicron atau B.1.1.529 berasal dari Afrika Selatan atau Botswana, dua negara yang memperingatkan dunia akan varian baru itu.


Seorang penumpang tiba di terminal internasional Bandara Sydney, Australia, 29 November 2021. (AFP)

Namun, Afsel dan Botswana tampaknya hanyalah negara yang pertama mendeteksi keberadaan Omicron berkat kemampuan pengurutan genetik terdepan di dunia. Dengan demikian kedua negara itu tidak bisa disebut sembarangan sebagai tempat awal mula munculnya Omicron.

Buktinya, pada Selasa (30/11/2021), pejabat kesehatan Belanda menyebut Omicron sudah ada di negara itu pada sampel 19-23 November 2021.

WHO telah mengategorikan Omicron sebagai variant of concern, dan menyatakan bukti awal menunjukkan varian itu memiliki risiko infeksi ulang yang lebih tinggi. Pada Selasa (30/11), WHO menyatakan belum ada kasus kematian terkait Omicron.

Baca Juga: Saat Omicron Menyebar, Eropa Lampaui 75 Juta Kasus Covid

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, kemunculan Omicron menunjukkan betapa berbahaya dan gentingnya situasi pandemi.

“Omicron menunjukkan mengapa dunia membutuhkan kesepakatan baru tentang pandemi,” katanya.

Richard Hatchett, CEO Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), satu yayasan yang mendanai pengembangan vaksin, mengatakan, kemunculan Omicron telah melengkapi prediksi bahwa penularan virus di daerah dengan tingkat vaksinasi rendah akan mempercepat evolusinya.


Pelancong tiba di Bandara Tullamarine Melbourne, Australia, Senin (29/11/2021). (AFP)

“Ketidaksetaraan yang menjadi ciri respons global kini telah muncul kembali," katanya seraya mencatat bahwa vaksinasi dosis lengkap di Botswana dan Afrika Selatan baru mencapai seperempat populasi.

Sebagai zona panas, Afrika Selatan diharapkan bisa memberikan gambaran lengkap bagaimana Omicron memengaruhi penyebaran Covid. Para ahli sudah mencermati negara itu untuk memantau berapa banyak kasus yang meningkat dalam beberapa waktu mendatang.

Indikator
Terkait Omicron, sebenarnya ada tiga indikator pertama jelas dan mudah dipahami semua orang: Apakah kasus meningkat? Apakah rawat inap meningkat? Apakah Omicron merupakan bagian terbesar dari seluruh kasus infeksi?

Para ahli epidemiologi mengukur pertumbuhan epidemi menggunakan R, jumlah rata-rata kasus baru yang disebarkan oleh setiap infeksi.

Baca Juga: Soal Omicron, Ilmuwan WHO Minta Dunia Tidak Panik

Pada akhir November, Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan di Johannesburg menetapkan bahwa R sudah di atas 2 di Gauteng, provinsi terkecil di Afrika Selatan.

Pantauan lonjakan kasus di Afrika Selatan cukup mengejutkan. Pada awal November, Afrika Selatan rata-rata mencatat sekitar 349 kasus Covid-19 baru setiap hari. Namun pada 1 Desember, rata-rata hampir 3.800 kasus baru setiap hari.

Tom Weseleers, ahli biologi evolusi di KU-Leuven di Belgia, mengatakan, berdasarkan kenaikan data kasus dan pengurutan Covid-19, Weseleers memperkirakan bahwa Omicron dapat menginfeksi orang tiga hingga enam kali lebih banyak daripada Delta, dalam periode waktu yang sama.


Calon penumpang memberikan informasi menjelang tes Covid-19 gratis di Bandara Internasional Los Angeles. (AFP)

Sementara, Christian Althaus, seorang ahli epidemiologi komputasi di University of Bern, Swiss, berpendapat, pengawasan yang meningkat di Afrika Selatan dapat menyebabkan para peneliti melebih-lebihkan pertumbuhan cepat Omicron.

Tetapi, katanya, jika pola itu berulang di negara lain maka fakta itu baru menjadi bukti yang sangat kuat bahwa Omicron memiliki keunggulan penularan.

“Jika itu tidak terjadi, misalnya, di negara-negara Eropa, itu berarti segalanya sedikit lebih kompleks dan sangat bergantung pada lanskap imunologis. Jadi kita harus menunggu,” tambah Althaus.

Baca Juga: Temukan Omicron, Jenewa Karantina 2.000 Orang 

Aris Katzourakis, pakar evolusi virus di University of Oxford, Inggris menilai seberapa cepat varian menyebar di tempat lain mungkin bergantung pada faktor-faktor seperti vaksinasi dan tingkat infeksi sebelumnya.

Mendominasi
Sebelum Amerika Serikat (AS) sebagai negara ke-24 yang mengidentifikasi Omicron, beberapa negara telah mengidentifikasi keberadaan Omicron yakni Inggris, Prancis, Israel, Belgia, Belanda, Jerman, Italia, Swedia, Denmark, Australia, Kanada, Hong Kong, India, Ghana, Arab Saudi, UEA, Singapura dan sejumlah negara di Afrika bagian selatan.

Omicron mungkin saja mendominasi pandemi Covid-19, seperti Delta, atau malah gagal seperti Beta dan Gamma, varian yang mungkin sudah terlupakan.

Baca Juga: ECDC Sebut Omicron Bisa Jadi Varian Dominan di Eropa

Salah satu cara untuk mengetahui apakah itu menjadi dominan adalah bahwa jumlah kasus Covid-19 seperti AS atau negara lain, yang disebabkan oleh Omicron, akan mulai meningkat.

Untuk melengkapi gambaran, varian Delta menyebar di AS dimulai dari pertumbuhan kecil yakni sekitar 1% dari semua kasus Covid-19 pada Mei.

Namun, varian Delta menjadi 99 % dari keseluruhan kasus pada Agustus atau hanya berselang tiga bulan. Untuk saat ini, 99,9% sampel yang diurutkan di AS adalah varian Delta.

Dalam prediksi yang lebih ekstrem, Leong Hoe Nam, dokter penyakit menular di RS Mount Elizabeth Singapura, menyebut, Omicron akan membanjiri dunia dalam tiga sampai enam bulan mendatang.


Antrean warga Washington DC, AS, di layanan vaksinasi Covid-19. (AFP)

Menurut Reuters, Delta, varian yang saat ini menyumbang 99% dari infeksi Covid, mulai menjadi lebih umum di negara bagian Maharashtra di India pada Maret 2021, dan lantas menjadi dominan secara global pada Juli.

Saat ini, pertanyaan kunci banyak orang adalah apakah Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada varian Delta? Jika ya, jawaban itu akan menyiratkan gambaran masa depan yang suram. Meskipun demikian, semakin banyak temuan kasus Omicron, ada semakin banyak alasan orang untuk khawatir.

Omicron juga telah terdeteksi di Israel, negara yang cermat melacak data Covid-19.

Baca Juga: Temuan Omicron di New York, Penyebaran Komunitas Terjadi

Seperti AS, Israel bahkan telah lama menerapkan strategi vaksin penguat alias booster. Namun fenomena Omicron di Israel masih dini.

Di sisi lain, jika Omicron dapat menghindari antibodi penetralisir, hal itu tidak berarti bahwa respons imun yang dipicu oleh vaksinasi dan infeksi sebelumnya tidak akan memberikan perlindungan terhadap varian tersebut.

“Studi kekebalan menunjukkan bahwa tingkat antibodi penetralisir yang relatif rendah dapat melindungi orang dari bentuk Covid-19 yang parah,” kata Miles Davenport, seorang pakar imunologi di University of New South Wales di Sydney, Australia.

Beberapa dokter percaya bahwa vaksin yang ada saat ini akan dapat memberikan perlindungan terhadap varian baru.

Baca Juga: Temuan Omicron di Berlin, Warga Diminta Kurangi Kontak

Syra Madad, seorang peneliti di Belfer Center for Science and International Affairs menyebut, tubuh manusia menghasilkan "seluruh antibodi yang berbeda" sebagai respons terhadap vaksin.

“Saya pikir vaksin kita saat ini akan bertahan sampai batas tertentu, dengan varian baru ini. Omicron mungkin mengurangi efektivitas vaksin beberapa tingkat, tetapi itu belum terlihat. Vaksin saat ini, bersama dengan vaksin penguat tetap harus memberikan tingkat perlindungan yang baik,” katanya seraya mencatat bahwa vaksin cukup mampu memberikan perlindungan terhadap Delta.

Dampak Ekonomi
Menyikapi seluruh fenomena global, pada Kamis (2/12/2021), Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, dampak Omicron cukup signifikan pada ekonomi global.

Varian Omicron dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dengan memperburuk masalah rantai pasokan dan menekan permintaan.

“Mudah-mudahan itu bukan sesuatu yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Ada banyak ketidakpastian, tetapi itu bisa menyebabkan masalah yang signifikan. Kami masih mengevaluasi itu,” kata Yellen.

Baca Juga: Wall Street Jatuh Dihantam Varian Omicron

Bagaimanapun, penyebaran Omicron telah mengguncang pasar keuangan dan mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk memperketat pembatasan perjalanan dan tempat kerja.

Seperti Yellen, pada Selasa (30/11/2021), Ketua Federal Reserve Jerome Powell pun bersaksi bahwa varian Omicron mengancam pemulihan ekonomi Amerika. Jika memperpanjang pandemi, Omicron tetap bisa mendorong harga-harga naik, mengganggu pertumbuhan lapangan kerja, dan memperburuk krisis rantai pasokan.

“Kenaikan baru-baru ini dalam kasus Covid-19 dan munculnya varian Omicron menimbulkan risiko penurunan terhadap pekerjaan dan aktivitas ekonomi dan meningkatkan ketidakpastian inflasi,” tulis Powell.


Jarome Powell. (AFP)

Powell mencatat, ekonomi mengalami pukulan berat di musim panas ketika varian Delta menyebar ke seluruh dunia.

Saat itu, banyak orang Amerika takut bepergian, berbelanja, makan di restoran, dan kembali ke kantor. Bagaimana pun, separuh dampak ekonomi dari pandemi datang dari konsumen yang secara sukarela memutuskan untuk menjaga jarak, terlepas dari batasan hukum.

Sampai saat ini, vaksin masih menjadi garis pertahanan terbaik menghadapi pandemi Covid, termasuk penyebaran Omicron. Nasib langsung ekonomi global, bagaimanapun, tergantung pada data rawat inap di banyak negara. Jadi ketidakpastian dampak Omicron mungkin akan berlanjut hingga tahun 2022, membebani ekonomi saat mulai kembali pemulihan normal.



Penulis: Unggul Wirawan / DAS
Sumber: Berbagai Sumber

#Omicron #Varian Omicron #Varian Baru Covid-19 #Omicron Ancam Perekonomian #Covid-19

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Kembangkan Layanan, Bank Aladin Dilatih Tim Google

IPO, Saham Net TV Tercatat di BEI

IHSG Berbalik Melemah di Akhir Sesi I

Sudah Lebih 10.000 Kasus, Ini yang Baru Diketahui tentang Subvarian BA.2

2021, KPK Tangkap 123 Tersangka dengan Pengembalian Negara Rp 416,9 M

KSP Harus Optimalkan Lahan Perumahan Krakatau Steel Menjadi Lebih Modern

KIPI pada Anak Cenderung Lebih Rendah Dibanding Dewasa dan Lansia

Singapura Dukung Presidensi G-20 Indonesia

Digelar 14 Februari 2024, Ketua DPR Harap Persiapan Pemilu Bisa Lebih Matang

10.000 Lebih Kasus, Turunan Varian Omicron BA.2 Terdeteksi di 47 Negara

BERITA TERPOPULER