Harga Minyak Naik karena Pelonggaran Lockdown Tiongkok

Chicago, Beritasatu.com - Harga minyak naik tipis pada Jumat (20/5/2022) karena rencana larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia dan pelonggaran penguncian Covid-19 di Tiongkok. Di sisi lain kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi akan merugikan permintaan.

Harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Juli naik 0,46% jadi US$ 112,55 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juni menguat 0,9% pada US$ 113,23 per barel.

Hal itu menempatkan premi Brent bulan depan di atas kontrak WTI turun ke level terendah sejak Oktober 2021. Premi yang lebih rendah berarti perusahaan energi akan cenderung tidak mengambil barel AS untuk ekspor.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Melemah, Investor Pantau Situasi Shanghai

Untuk minggu ini, harga minyak WTI mencatat kenaikan mingguan keempat berturut-turut untuk pertama kalinya sejak pertengahan Februari. Sementara Brent naik sekitar 1% setelah jatuh 1% minggu lalu.

"Risiko tetap ada mengingat pembukaan kembali Tiongkok dan upaya lanjutan embargo minyak Rusia oleh UE," kata analis pasar OANDA, Craig Erlam.

Di Tiongkok, Shanghai tidak memberi sinyal perubahan pada rencana berakhirnya penguncian (lockdown) seluruh kota pada 1 Juni, meskipun ada kasus Covid-19 baru pertamanya di luar area karantina dalam 5 hari.

Pasar energi mengharapkan pencabutan lockdown di Shanghai Tiongkok untuk meningkatkan permintaan minyak. Tiongkok adalah importir minyak mentah utama dunia.

Baca Juga: AS Tingkatkan Produksi, Harga Minyak Mentah Dunia Turun 2%

Sementara Uni Eropa berharap mencapai kesepakatan atas usulan larangan impor minyak mentah Rusia yang mencakup pemotongan negara-negara anggota yang paling bergantung pada minyak Rusia, seperti Hungaria.

“Peluang embargo UE diumumkan lebih cepat daripada meningkat setelah keberhasilan Jerman memotong impor minyak Rusia lebih dari setengahnya dalam waktu singkat,” kata penelitian konsultan BCA dalam sebuah catatan.

Bisnis besar Jerman sedang mempertimbangkan menggunakan sistem lelang untuk membantu pasokan jika Rusia memotong gasnya, meskipun bisa merugikan perusahaan kecil.

Di Amerika Serikat, perusahaan energi AS minggu ini menambahkan rig minyak dan gas alam selama 9 minggu berturut-turut, menurut hitungan rig Baker Hughes. Jumlah rig merupakan indikator pertumbuhan output di masa depan.

Di India, impor minyak mentah pada bulan April catat rekor tertinggi dalam 3,5 tahun karena importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia meningkatkan pembelian minyak Rusia dengan diskon sehingga mendorong permintaan.

Di Norwegia, produksi minyak mentah pada April meleset dari perkiraan sebesar 10,6%. Sementara produksi gasnya sesuai dengan ekspektasi.



Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Sumber: CNBC

#Harga Minyak #Pasokan Minyak #Embargo Minyak Rusia #Beritasatu Bisnis #Lockdown Tiongkok

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Unik! Pedagang Hewan Kurban di Depok Jual Domba Tanduk Empat

Tarif ke Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Bikin Resah

Pengamat Ingatkan Waspada Potensi Krisis Ekonomi seperti Sri Lanka

KPK Pertanyakan ICW yang Hanya Ungkit Harun Masiku

Transisi Pandemi, Perekonomian Nasional dan DKI Akan Melesat

Cakupan Rendah, Bulan Imunisasi Anak Nasional Digelar

UGM dan Kemenkominfo Kolaborasi KKN-PPM Literasi Digital

Saat Ahok, Bima Arya, dan Airin Berkelakar soal Pilkada DKI

Cara Klaim Asuransi Mobil kalau Terlibat Tabrakan Beruntun

Ratusan Tenaga Kesehatan Profesional Ditempatkan di Arab Saudi

BERITA TERPOPULER