Rachel Vennya Kabur dari Karantina, Epidemiolog: Bisa Merusak Kesehatan Negara

Jakarta, Beritasatu.com - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menyatakan orang yang kabur dari karantina pelaku perjalanan internasional di masa pandemi Covid-19 ini, bisa merusak situasi kesehatan satu negara.

Pernyataan Dicky tersebut menanggapi kasus selebgram Rachel Vennya yang atas bantuan dari oknum TNI, kabur dari karantina kesehatan sepulang dari Amerika Serikat (AS). Fakta ini menjadi pembenaran kekhawatiran banyak orang mengenai rapuhnya karantina sebagai pencegah imported cases.

"Hal ini sangat memprihatinkan dan harapannya aparat pemerintah seharusnya bisa menjadi palang pintu penerapan dari undang-undang atau aturan karantina kesehatan ini bisa lebih tegas lagi. Dampaknya dari satu orang saja yang lolos, akan bisa merusak situasi kesehatan negara," kata Dicky ketika dihubungi Beritasatu.com, Kamis (14/10/2021).

Perlu dipahami, lanjut dia, bahwa pandemi Covid-19 ini karena ada satu orang yang disebut zero case atau satu orang dari negara-negara yang menjadi sumber disebut index case, sehingga situasinya menjadi buruk pada suatu negara.

Misalnya saja pandemi Covid-19 di Eropa menjadi buruk situasinya karena ulah satu orang karena ada yang datang atau berasal dari Tiongkok lalu ke Italia tanpa ada pemeriksaan yang ketat. Tentu ini menjadi peringatan keras. Ingat, pandemi itu dari satu orang saja sangat berarti untuk menjadi perburukan.

Baca Juga: Karantina Covid-19 Bobol, Rachel Vennya Kabur Dibantu Oknum Tentara

Pidana 1 Tahun
"Oleh karena itu, masalah pelanggaran karantina sebenarnya ancaman pidananya ada, yakni Pasal 93 juncto Pasal 9 UU Nomor 6 Tahun 2018 terkait karantina kesehatan. Pelaku yang melaggar terkait karantina kesehatan itu sanksinya bisa pidana sampai 1 tahun dan denda Rp 100 juta, karena kebetulan saya termasuk orang yang terlibat dalam proses penyusunan UU Kesehatan Karantina ini," ungkap Dicky.

Namun, katanya, bukan berarti semua yang melanggar (aturan krantina kesehatan) harus langsung dipidanakan. Menurut Dicky, pihaknya termasuk yang mengacu atau menerapkan prinsip literasi dahulu baru ada sanksi. Literasi ini bisa dalam bentuk memberikan pemahaman, kemudian tetap ada sanksi-sanksi.

"Apa itu jangan pidana dahulu, tetapi sanksi hukuman sosial atau menjadi pelayan atau pekerja sosial seperti memberikan layanan di fasilitas karantina/isolasi. Tapi pada gilirannya nanti tetap harus diterapkan sanksi yang tegas," ujar dia.

Dengan demikian, akan membuat para pelanggar jera, karena negara-negara lain bisa berhasil menurunkan kondisi Covid-19 sebab sanksinya diterapkan tanpa pandang bulu.

"Sementara di sini (Indonesia) kalau tanpa sanksi, bisa kacau balau negara ini. Sama halnya seperti karakter manusia. Jadi antara literasi, kemudian sanksi dan konsistensi itu menjadi sangat penting," tutup Dicky.



Penulis: Hendro D Situmorang / JEM
Sumber: BeritaSatu.com

#Rachel Vennya #Rachel Vennya Kabur #Karantina #Karantina Perjalanan #Karantina Perjalanan Luar Negeri #Karantina Covid-19 #Epidemiolog #Dicky Budiman

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Digitalisasi Akselerasi Pemulihan UMKM

DKI Kembali Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik

Adhi Karya Terima Financial Close Rp 420 Miliar untuk Preservasi Jalintim Riau

Ekonomi Jakarta Mulai Pulih, Anak Buah Anies Usulkan Rancangan APBD 2022 Senilai Rp 80,15 Triliun

KPK Patahkan Klaim Azis Syamsuddin Pinjami Uang Stepanus Robin untuk Pengobatan Covid-19

Priscilla Hertati Jagokan Stamp Fairtex Menangkan Grand Prix

Musim Penghujan Kabupaten Bogor Keadaan Awas Bencana

Kembali Digugat PKPU, Ini Tanggapan Garuda Indonesia

Tabrakan Maut Antarbus, Wagub Riza Sebut Tidak Mudah Jadi Sopir Transjakarta

Asproksi Bekasi Diharapkan Berkontribusi Tingkatkan Standar Produk Kesehatan

BERITA TERPOPULER