Pandemi Covid-19 Diprediksi Selesai Akhir 2022

Jakarta, Beritasatu.com – Epidomolog dari Center for Environment and Population Health, Griffith University Australia Dicky Budiman belum dapat memastikan kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir.

Menurutnya saat ini ada dua skenario, yakni skenario baik pandemi akan selesai di akhir 2022, atau skenario buruk baru berakhir pada 2025.

Demikian diungkapkan Dicky Budiman dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Paramadina dan Center IDS bertajuk “Tata Kelola Vaksin dan Herd Immunity di Indonesia dan ASEAN”, Rabu (13/10/2021).

Disebutkan pandemi Covid-19 secara global saat ini ada di gelombang ke-3 dunia.

“Saat ini kita masih di atas, meskipun ada tren menurun, tapi belum jelas trennya akan seperti apa. Belum benar-benar mengarah ke terkendali.” katanya.

Dicky mengungkap nanti ada tiga kategori, terkendali, endemi atau epidemi. “Endemi bukan berarti tidak berbahaya, yang membedakan treshold-nya saja. Seperti misalnya demam berdarah, kalau treshold terlewati ini bisa jadi wabah besar. Ini yang perlu kita hindari,” ujarnya.

Dicky mengingatkan akan adanya efek long covid. “Bisa diperkirakan secara ekonomi akan ada beban 5-10 tahun ke depan. Selesai pandemi Covid akan ada dampak ikutan panjang bisa 10-20 tahun ke depan.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah potensi ledakan. “Meskipun ada yang memiliki imunitas, tapi level indonesia ini dalam transimisinya di penularan komunitas di level 4 WHO. Itu yang terburuk, artinya kita tidak dapat mendeteksi sebagian besar kasus infeksi,” katanya.

Hendrik Therik Assistant Protection Officer (Acting) UNHCR Indonesia menyatakan bahwa saat ini di Indonesia ada 13.743 pengungsi yang tersebar di beberapa wilayah.

“Pengungsi diberikan oleh pemerintah fasilitas yang sama dengan WNI ketika terkena Covid-19, namun sejak 20 April hanya beberapa faskes saja yang melayani pengungsi untuk dirawat secara gratis,” katanya.

Baca Juga: Menlu: Pandemi Covid-19 Perburuk Tantangan Kemanusiaan di Asia Pasifik

Praktik baik inklusi pengungsi dalam vaksinasi Covid-19 bersama pemerintah daerah telah dilakukan di beberapa daerah.

“Contohnya di Aceh Timur pada awal Juni, saat kedatangan pengungsi Rohingnya, sehari kemudian pemerintah Aceh Timur memberikan vaksinasi. Daerah lainnya juga dilakukan vaksinasi di Pekanbaru, Kupang, dan di Jakarta. Selain itu juga dari PBB sendiri dan CSR dari lembaga lainnya,” katanya.

Jika sebelumnya belum ada peraturan yang jelas, maka pada tanggal 21 September 2021 Keputusan Menteri Kesehatan telah direvisi sehingga sudah ada pedoman resmi untuk para pemerintah daerah yang ingin melakukan vaksinasi di daerah.

“Saat ini sudah ada 3.000 orang pengungsi yang telah menerima vaksinasi dosis 1 dari 10 ribu orang yang memenuhi kriteria,” ungkapnya.

Hendrik berharap vaksinasi dapat menjangkau lebih luas untuk para pengungsi. “Semoga semakin banyak pengungsi yang dapat divaksin karena mereka hidup berdampingan bersama kita, sehingga mereka juga perlu diperhatikan karena tidak semua orang aman sebelum semua orang divaksinasi, termasuk juga pengungsi,” ujarnya. .

Tatok Djoko Sudiarto, Ketua Prodi Hubungan Internasional Universitas Paramadina mempertanyakan peran ASEAN yang terkesan diam menghadapi pandemi Covid-19.

“Kenapa saat pandemi ini ASEAN menjadi diam, apakah sifat dari covid ini yang membuat ASEAN diam sehingga setiap daerah dibiarkan untuk membuat kebijakan di daerahnya masing-masing?,” tanyanya.

Tatok mengingatkan pentingnya kerja bersama di regional ASEAN ini yang benefitnya sangat banyak baik dari sisi cooperation, capacity dan community.

Ia juga mengungkap bahwa menurut IMF ada kerugian 9 triliun dolar dari krisis pandemi, bukan hanya kehilangan barang tapi juga jiwa.

“Dalam hal pengadaan vaksin, terjadi ketidakseimbangan kesehatan global dalam hal pengeluaran, riset infrastruktur dan inovasi. Lima negara besar dunia penduduknya hanya 9% populasi itu spending-nya 60% dari global spending,” ujarnya.



Penulis: Rully Satriadi / RSAT
Sumber: BeritaSatu.com

#Pandemi Covid-19 #Dicky Budiman #Universitas Paramadina #UNHCR Indonesia #ASEAN

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Floyd Mayweather Jadi Petinju Terbaik Sepanjang Masa Versi Boxrec

Sesi Siang, IHSG Tergerus 51 Poin ke Posisi 6.605

Mulai 2030, Tambahan Pembangkit Listrik Seluruhnya EBT

Program Cetak Sawah Libatkan TNI AD Gagal, Ini Pandangan Pengamat

Polisi Sudah Periksa 5 Orang Terkait Kecelakaan Bus Transjakarta

Pemerintah Dorong Digitalisasi untuk Akselerasi Pemulihan UMKM

DKI Kembali Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik

Adhi Karya Terima Financial Close Rp 420 Miliar untuk Preservasi Jalintim Riau

Ekonomi Jakarta Mulai Pulih, Anak Buah Anies Usulkan Rancangan APBD 2022 Senilai Rp 80,15 Triliun

KPK Patahkan Klaim Azis Syamsuddin Pinjami Uang Stepanus Robin untuk Pengobatan Covid-19

BERITA TERPOPULER