Mas Menteri Nadiem Cerita "Apa Adanya" soal Pendidikan di Indonesia

Jakarta, Beritasatu.com - Selama delapan bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim dikenal dengan ide-ide yang menyita perhatian publik. Ia percaya, perubahan tersebut dapat menjadi solusi atas persoalan-persoalan sektor pendidikan di Indonesia.

Merdeka Belajar adalah sebuah jalan yang ia ambil untuk menjadi solusi dunia pendidikan saat ini dan mendatang. Hingga saat ini, Merdeka Belajar telah memiliki empat program yang membahas: Ujian Pendidikan dan Zonasi, Kampus Merdeka, Mekanisme Operasional BOS, program Organisasi Penggerak dan juga Guru Penggerak.

Dalam program dialog bertajuk Apa Adanya yang ditayangkan di kanal media media sosial Beritasatu, Jumat (3/7/2020), ia mengaku bahwa kelemahan sektor pendidikan di Indonesia semakin terlihat nyata dengan adanya musibah pandemi ini.

Persoalan pertama yang paling terekspos adalah delta atau gap antara daerah tertinggal dan perkotaan Indonesia. Itu satu hal yang sangat terlihat, mulai dari akses ke internet, bahkan daya beli listrik, dan juga akses pada guru-guru yang melek teknologi. Gap itu menurutnya menjadi jauh lebih ekstrem di kondisi pandemik Covid-19.

“Demi menutup kesenjangan antara daerah-daerah terluar dengan daerah yang status ekonominya lebih tinggi dan lebih urban itu menjadi suatu mandat kita yang semakin penting lagi sekarang. Banyak dari effort ini bukan cuman lintas kementerian tetapi juga lintas pemerintahan daerah, pusat ataupun swasta.Tidak mungkin itu tercapai hanya satu pihak, butuh gotong royong semua ekosistem,” terangnya.

Masalah selanjutnya, ia mengakui bahwa teknologi di dunia pendidikan untuk mencapai pendidikan yang bermutu itu memiliki batas, terutama untuk anak-anak yang masih berada di usia belia. Persoalan ini semakin menantang untuk diatasi di masa pandemik Covid ini.

Meski sudah banyak daerah-daerah yang adopsi teknologi baik, sulit untuk mensubstitusi interaksi tatap muka. Jadi menurutnya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan penggunaan teknologi yang baik, itu pada dasarnya dipengaruhi oleh guru yang baik dan mau belajar kebaruan teknologi, serta kemudian mengadaptasikan pembelajaran yang mereka dapat ke anak-anak muridnya.

Untuk mengaktualisasikan solusi dari persoalan tersebut, ia pun merancang program Guru Penggerak. Program ini berupa pelatihan, identifikasi dan pembibitan calon pemimpin pendidikan di masa depan.

Terkait arah program Guru Penggerak, Nadiem berkata, akan berfokus pada pedagogi atau seni dalam menjadi seorang guru, serta berpusat pada siswa dan pengembangan holistik. Menurutnya, tenaga pendidik dalam Guru Penggerak bukan hanya guru yang baik, tetapi punya kemampuan berinovasi dan mendorong tumbuh kembang murid.

“Dengan demikian, ujung dari pembelajaran saat ini, mau pakai teknologi ataupun tidak adalah kualitas guru, dan bagaimana sistem kita mencetak dan melatih guru-guru, bukan hanya dengan kompetensi, tapi dengan rasa cinta kepada anak yang jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Dirinya pun melanjutkan, rigiditas dari kurikulum di Indonesia juga memiliki endapan problematika di dalamnya. Ia menjelaskan, kurikulum bukan hanya suatu modul-modul atau pendidikan kita untuk dipelajari anak, lebih jauh kurikulum itu sebenarnya akan menjadi garis panduan dan juga rambu-rambu para pendidik di Indonesia.

“Semakin ketat peraturannya di sini semakin tertahan juga kreativitas dan inovasi para guru. Apalagi di situasi saat ini, dimana guru-guru harus mencari jalan yang lebih kreatif memastikan pembelajaran masih dapat diselenggarakan,” jelasnya.

Demi menjawab tantangan ini, solusi cepat yang bisa diberikan oleh Kemdikbud adalah penyederhanaan kurikulum. Menurutnya ini adalah pilihan terbaik, mengingat mentransformasi kurikulum itu tidak akan mungkin terjadi dalam masa krisis 3-6 bulan ini.

“Membuat kurikulum baru itu perlu pemikiran lebih mendalam, bahkan bisa memakan waktu hingga lima tahun. Hal yang terpenting untuk kita lihat saat ini, adalah kita harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi, tetapi kita tidak mengeluarkan kurikulum baru tanpa pemahaman analisa dan kerja sama stakeholder yang efektif dan mendalam," kata dia.

Pernikahan Massal
Dalam masa pengabdiannya, Nadiem juga bercita agar pendidikan vokasi atau kejuruan langsung terhubung dengan perusahaan atau industri. Hubungan ini disebut Nadiem seperti nikah massal, antara vokasi dan perusahaan.

Menggagas konsep 'pernikahan massal' agar lulusan pendidikan vokasi bisa mudah mendapat kerja setelah lulus. Dia mendorong penyelenggara pendidikan vokasi baik SMK maupun politeknik, menyiapkan para peserta didik agar langsung diserap oleh industri.

Poin pertama dalam pernikahan masal ini adalah perumusan kurikulum. Nadiem berharap sekolah dan perguruan tinggi vokasi bisa memutakhirkan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kalau kurikulumnya bukan dari industri, kalau yang ngajar bukan dari industri, kalau tidak ada kemitraan rekrutmen dengan industri, itu ya namanya bukan vokasi. Jadi saya sudah bilang secara apa adanya, kepada semua semua member kepala kepala sekolah SMK sama rektor-rektor kita,” terangnya.

Selain itu, Nadiem juga mendorong penyelenggaraan pendidikan vokasi untuk menjalin kerja sama perekrutan dengan pelaku industri. Dengan begitu, lulusan mereka langsung bisa terserap ke dunia kerja.

“Vokasi itu hanya terbukti kalau ada industri yang sponsor dan merekrut langsung itu lulusan, baru namanya vokasi. Jadi itu menjadi cap kualitas kita. Saya nggak mau nerima alasan-alasan atau faktor-faktor lain kualitas sederhana. Parameter sederhana tetapi konkrit. Karena dengan pernikahan yang sah, mereka akan melahirkan anak-anak yang kualitas terbaik,” tuturnya.

Namun rintangannya, di masa pandemik ini vokasi juga harus melewati tantangan di tengah pandemi ini. Mengingat, kegiatan praktik siswa di sekolah terhambat selama beberapa bulan ini.

“Kita ingin memfokuskan pada revitalisasi SMK dan Politeknik, agar terlebih dulu memfokuskan untuk upgrade para siswa dibanding sarana prasarananya. Karena, saat SDM kita upgrade, baru dia bisa memilih dan menggunakan prasarana yang canggih. Maka latihan itu yang tadinya kita mau lakukan secara fisik yang sedikit terganggu, sekarang kita tetap melakukan pelatihan secara online,” tuturnya.

Masa Depan Bangsa
Meski Nadiem menyadari bahwa ia tak memiliki latar belakang sektor pendidikan. Namun, ia mengungkapkan alasan, keputusan besarnya untuk menjadi Menteri Pendidikan ini ialah untuk memberikan lentera pada masa depan bangsanya.

Nadiem, yang dikenal sebagai pembangun perusahaan teknologi Go-Jek, dinilai mampu mengantisipasi tantangan masa depan, termasuk yang berkenaan dengan kebutuhan lingkungan pekerjaan pada masa mendatang.

“Ini satu-satunya tugas di pemerintahan yang akan saya pernah terima, saya nggak akan pernah untuk menerima tugas lain di luar pendidikan. Kenapa saya terima? Karena saya pikir kunci dari segala-galanya adalah generasi berikutnya,” terangnya.

Nadiem mengatakan, potensi Indonesia benar-benar itu bertransformasi ada di generasi muda. Itulah mengapa, semua kesulitan dan pengorbanan ini rela ia lakukan untuk membentuk generasi yang unggul.



Penulis: Dina Fitri Anisa / FMB
Sumber: BeritaSatu.com

#Nadiem Makarim #Mendikbud #Pendidikan

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Mondelez Salurkan Bantuan Covid-19 Senilai Belasan Miliar

Sampai Akhir Juli, Pembebasan Lahan Tol Probolinggo-Banyuwangi Seksi I Capai 18,76%

Frank Lampard Tak Kecewa Bila Willian Hengkang

Agar Pengadaan Barang dan Jasa Lebih Transparan, Kemidikbud Luncurkan Aplikasi SIPLah

Universitas Pancasila Gelar Wisuda Secara Daring

Ketum VIU dan Pendeta HKBP Serukan Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan

Sepi Penghuni di Masa Pandemi, Asrama UI Direnovasi

Perluasan Ancol Diharapkan Sediakan Akses Pantai Publik

Ganjil Genap Dinilai Tak Efektif Kurangi Mobilitas Warga

Tiga Sektor Ini Paling Diminati Investor Asing

BERITA TERPOPULER