Bantuan Subsidi Kuota Internet hanya Tercapai 62 Persen

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo menyatakan pihaknya sejak awal sudah memprediksi bahwa subsidi kuota internet kemungkinan hanya mencapai sekitar 62% saja secara total dari target 59 juta penerima kuota yang ditujukan untuk siswa, mahasiswa, guru dan dosen.

"Berdasarkan data kami, tahap pertama pada September lalu itu capaiannya hanya 48%. Lalu penyaluran kedua yakni Oktober jika diakumulasi hanya sekitar 35,7 juta saja. Dengan melihat itu, memang banyak sekali daerah-daerah yang tidak memperoleh akses intenet karena jaringan yang turun naik, ditambah masalah SPTJM (surat pernyataan tanggung jawab mutlak) yang akhirnya mentok sudah maksimal di 35,7 juta itu,” ujar Heru kepada Suara Pembaruan, Senin (3/11/2020).

Menurutnya, di tahap terakhir yang akan dirangkap menjadi satu dan kuota menjadi 2 kali lipat baik kuota untuk umum maupun belajar, masih tanda tanya. Pasalnya banyak tenaga pendidik yang sudah menanyakan ke FSGI hingga saat ini bantuan kuota belum didistribusikan.

"Memang kami akui, jaringan yang tak stabil membuat si penerima kuota menjadi sulit mengaksesnya. Maka anggaran kuota sebesar Rp 7,2 triliun itu prediksi kami hanya terserap sekitar 62% saja di akhir program ini, sehingga ada dana sekitar Rp 3 triliun yang diperkirakan tak terpakai,” urainya.

Baca Juga: P2G: Target Bantuan Kuota Internet Tahap Terakhir Meleset

Dengan melihat kondisi ini, lanjut Heru, sisa dana tersebut bisa mubazir. Maka akan lebih baik dan adil bisa dipergunakan teknik belajar luring dengan memberikan seperti modul. Pembelajaran lewat modul yang dicetak dan didstribusikan ke daerah-daerah. Cara ini bisa menjadi lebih efektif nantinya bagi daerah yang kualitas akses jaringan internetnya buruk.

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin Kemdikbud), Muhammad Hasan Chabibie, mengatakan ada beberapa hal yang menyebabkan tenaga pendidik dan siswa belum mendapatkan bantuan kuota internet.

"Mereka yang tidak mendapatkan subsidi kuota mungkin ada di daerah terdepan, tertinggal dan terluar (3T), sehingga sinyal kurang mendukung untuk mendapatkan bantuan kuota. Lalu dari pihak sekolah ada yang tidak mengirimkan SPTJM, di mana hal itu menjadi dasar pengiriman kuota,” kata Hasan. 



Penulis: Hendro D Situmorang / EAS
Sumber: Suara Pembaruan

#Kuota internet #Subsidi kuota #Guru #Covid-19

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Percepat Vaksinasi, Kemkes Tambah 80.000 Vaksinator

Petugas Lapas Lowokwaru Ungkap Penyelundupan 50 Paket Diduga Tembakau Gorilla dan Ganja

Ini Alasan Ibrahimovic Sebut Lukaku "Voodoo".

Anggota DPRD PSI Kota Manado Sumbangkan Gaji untuk Korban Banjir

Sekjen MUI: Ulama Dapat Dilibatkan dalam Mendeteksi Dini Radikalisme

Insentif Harga Gas Dongkrak Utilisasi Industri Kaca Lembaran

Osaka Bedding Buka Lowongan Kerja untuk Para Penjahit di Masa Pandemi

Curhat Biaya Transfer Antarbank, Bintang Emon Coba Suarakan Isi Hati Warganet

Istri Edhy Prabowo Diduga Kecipratan Aliran Dana Suap

Bio Farma Distribusikan 1,8 Juta Dosis Vaksin Tahap Dua untuk 900.000 Nakes

BERITA TERPOPULER