Batasi Pengambilan Lobster di Laut demi Menjaga Alam

Jakarta, Beritasatu.com - Bukan rahasia umum bahwa lobster (udang karang atau udang barong) memiliki nilai ekonomi dan konsumsi yang tinggi. Dagingnya yang gurih, halus, lezat dan kaya akan protein membuat banyak orang bahkan produsen makanan memburunya. Pangan dari perairan ini bahkan menjadi primadona karena harganya yang cukup tinggi di pasar ekspor meskipun baru benur (bibit) lobster.

Tidak lantas karena bergizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi, lantas pengambilan lobster di laut semena-mena. Justru karena nilainya yang tinggi, maka pengambilan lobster harus dibatasi demi menjaga pasokannya di alam. Budidaya lobster juga bisa menjadi pilihan terbaik untuk menjaga pasokan. Selain itu masyarakat juga harus bijak ketika mengonsumsinya. Hindari konsumsi lobster anakan atau yang sedang bertelur.

Pakar crustacea Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rianta Pratiwi mengatakan perlu pembatasan pengambilan benih lobster di laut Indonesia untuk menjaga kelestarian organisme tersebut.

"Pengambilan benur (benih) dari alam untuk dibudidayakan akan menyebabkan berkurangnya plasma nutfah di alam sehingga harus diberikan batasan untuk penangkapannya," kata Rianta dalam sapa media virtual dengan tema "Memahami Potensi Lobster dari Perspektif Kelautan dan Sosial", di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Rianta menuturkan perairan tempat ditangkapnya benih/benur memiliki daya dukung yang terbatas sehingga tidak dapat menghidupi semua benur yang ada. Menurut dia, berbagai jenis makanan lobster juga dipanen oleh manusia sehingga makanan yang tersedia bagi lobster juga berkurang. Penangkapan benih lobster secara terbatas perlu dilakukan sebagai upaya memanfaatkan melimpahnya benih lobster, meningkatnya pendapatan nelayan, menghidupkan aktivitas budi daya serta meningkatkan nilai ekspor.

"Keberadaan benih di alam juga semakin terancam dan berkurang sehingga kelestarian lobster jarus dijaga,” tutur Rianta.

Lobster sendiri tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia dan hidup di perairan dangkal hingga kedalaman 100 hingga 200 meter di bawah permukaan laut dengan kisaran suhu 20-30 derajat celsius. Diketahui dengan total luas wilayah perairan mencapai 6,32 juta km persegi dan total garis pantai sepanjang 81.000 km, Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekayaan laut terbesar di dunia.

Baca Juga: Ekspor Bibit Lobster Jangan Hanya untuk Tingkatkan Perekonomian Nelayan

Indonesia juga memiliki area terumbu karang sangat luas yang merupakan habitat utama lobster, salah satu komoditas laut Indonesia yang memiliki peranan penting baik dari segi ekologi maupun ekonomi.

"Lobster biasanya menyenangi daerah terumbu karang, bersembunyi di dalam lubang atau di balik batu-batu karang yang airnya dangkal di daerah tropis ataupun semi tropis," kata Rianta.

Sementara pengembangan budidaya lobster sendiri telah dilakukan Indonesia sejak lama dan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12/PERMEN-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

"Sebenarnya pengembangan budidaya lobster, sudah dilakukan Indonesia sejak lama, akan tetapi memerlukan waktu pembesaran yang sangat lama, sehingga banyak yang tidak berhasil melakukannya," tutur Rianta.

Ditambahkan peneliti Kebijakan Kelautan dan Perikanan Pusat Penelitian Politik LIPI Anta Maulana Nasution, kebijakan mengizinkan ekspor benur dalam pendekatan ekologi politik tidak bisa dilihat sebagai langkah pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nelayan.

Ia pun menambahkan peraturan terkait ekspor benur seharusnya bisa direvisi agar nelayan juga mendapat kesejahteraan dari ekspor benur tersebut bukan memberi keuntungan segelintir oknum.

Harga lobster memang cukup mahal, dari benur di nelayan dihargai Rp 10.000 namun ketika sampai di pasar ekspor harganya bisa mencapai Rp 150.000 per ekor. Sementara itu, harga lobster pun cukup mahal. Lobster mutiara harga sebelumnya 900.000 per kg menjadi Rp 1,5 juta per kg. Lobster batik Rp 800.000 per kg menjadi 900.000 per kg. Sedangkan lobster bambu dari Rp 750.000 menjadi Rp 250.000 hingga Rp 1,2 juta per kg.



Penulis: Ari Supriyanti Rikin / EAS
Sumber: Suara Pembaruan

#Lobster #LIPI

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Percepat Vaksinasi, Kemkes Tambah 80.000 Vaksinator

Petugas Lapas Lowokwaru Ungkap Penyelundupan 50 Paket Diduga Tembakau Gorilla dan Ganja

Ini Alasan Ibrahimovic Sebut Lukaku "Voodoo".

Anggota DPRD PSI Kota Manado Sumbangkan Gaji untuk Korban Banjir

Sekjen MUI: Ulama Dapat Dilibatkan dalam Mendeteksi Dini Radikalisme

Insentif Harga Gas Dongkrak Utilisasi Industri Kaca Lembaran

Osaka Bedding Buka Lowongan Kerja untuk Para Penjahit di Masa Pandemi

Curhat Biaya Transfer Antarbank, Bintang Emon Coba Suarakan Isi Hati Warganet

Istri Edhy Prabowo Diduga Kecipratan Aliran Dana Suap

Bio Farma Distribusikan 1,8 Juta Dosis Vaksin Tahap Dua untuk 900.000 Nakes

BERITA TERPOPULER