Bupati Dogiyai Bantu Korban Konflik Intan Jaya

Moanemani, Beritasatu.com - Bupati Dogiyai, Papua, Yakobus Dumupa, Rabu (3/3/2021) memberikan bantuan berupa beras dua ton untuk pengungsi konflik di Kabupaten Intan Jaya.

Bantuan itu diberikan menyusul meletus perang terbuka antara aparat Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian Republik Indonesia (TNI-Polri) dengan Tentara Nasional Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) di wilayah Intan Jaya.

“Bantuan ini saya berikan atas nama rasa kemanusiaan yang dialami warga. Saya prihatin dengan warga sipil yang menjadi korban akibat konflik atau perang terbuka antara TNI-Polri dan TPN-OPM. Warga sipil adalah pihak yang tidak bersalah dalam konflik. Mereka adalah korban konflik tersebut sehingga mereka harus ditolong,” ujar Dumupa dalam keterangan tertulis, Rabu (3/3/2021).

Baca JugaPemkab Intan Jaya Klaim Roda Pemerintahan Berjalan Meskipun Konflik

Menurut Dumupa, bantuan beras sebesar 2 ton atau 2.000 kilogram untuk korban konflik Intan Jaya tersebut diserahkan melalui KAPP Intan Jaya di Nabire. Sejumlah warga sipil korban konflik Intan Jaya mengungsi ke Nabire, Papua.

Yakobus, mantan anggota Majelis Rakyat Papua, menambahkan pihaknya berharap bantuan yang diberikan tersebut dapat disalurkan dengan baik kepada sebagian korban yang saat ini berada di pengungsian.

Bantuan beras dari Bupati Dogiyai, Yakobus Dumupa, untuk korban konflik di Kabupaten Intan Jaya.

“Saya berharap kiranya bantuan ala kadarnya ini membantu meringankan beban pengungsi. Saya juga meminta para korban tetap memiliki semangat hidup. Sebagai umat beriman, saya juga mendoakan warga semoga Tuhan bersama mereka,” katanya.

Bupati yang baru saja menyelesaikan studi S-2 di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta Yogyakarta ini juga mengajak semua pihak untuk mengulurkan tangan membantu warga korban konflik Intan Jaya. Bantuan sekecil apapun, ujar Bupati Dumupa, sangat membantu meringankan beban penderitaan yang tengah dialami warga korban konflik Intan Jaya.

Baca JugaKKB Diduga Aniaya Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Puncak

Ia memandang, konflik atau perang terbuka di Intan Jaya sebenarnya tak mesti terjadi di tengah kerja keras pemerintah pusat dan pemerintah daerah menangani pandemi virus corona atau Covid-19 yang nyaris membuat ekonomi warga di daerah kelimpungan.

Sejak pekan pertama Februari 2021 pecah konflik antara TNI-Polri dan TPM-OPM di Intan Jaya. Menyusul konflik tersebut, sekitar 600 orang warga korban dilaporkan mengungsi korban. Mereka sempat bertahan di gereja Gereja Katolik St Misael Bilogai, Intan Jaya Bilogai, Intan Jaya.

Sebagian warga korban mengungsi di sejumlah kabupaten tetangga seperti Nabire. Jumlahnya dilaporkan terus meningkat di tengah eskalasi konflik. Konflik Intan Jaya dikhawatirkan mengganggu umat Kristiani yang tengah bersiap merayakan Paskah.

“Kekerasan hanya hanya akan melahirkan kekerasan baru. Peperangan dalam bentuk apapun tidak menyelesaikan masalah. Saya berharap agar para pihak yang bertikai atau berperang segera duduk bersama mencari solusi damai dan bermartabat. Saya juga turut berduka atas meninggalnya sejumlah warga masyarakat, anggota TNI dan Polri, dan anggota TPN-OPM akibat konflik dan perang tersebut. Semoga mereka mendapatkan tempat yang layak di Surga,” kata Dumupa.



Penulis: Jaja Suteja / JAS
Sumber: BeritaSatu.com

#Bupati Dogiyai #Intan Jaya #Konflik Intan Jaya

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Balapan Liar Meresahkan Warga di Aceh Utara, Polisi Gelar Razia

BKB Pertahankan Penutup Stupa Candi Borobudur

Pemprov DKI Diminta Lakukan Inovasi Tangani Banjir Cipinang Melayu

Indonesia Tantang Filipina di Final FIBA Esport

Kobexindo Tambah Portofolio Alat Berat

Pemkab Malang Kucurkan Dana Bedah Rumah untuk Korban Gempa

SiCepat Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir NTT

Sudah Suntik Dua Dosis, 40 Perawat Malaysia Masih Bisa Terinfeksi Covid-19

MRT Jakarta Ubah Jadwal Waktu Operasional Mulai Senin

Wapres Ma'ruf Amin Sampaikan Tips Puasa di Tengah Pandemi

BERITA TERPOPULER