Program Cetak Sawah Libatkan TNI AD Gagal, Ini Pandangan Pengamat

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Center for Budget Analysis (CBA) Jajang Nurjaman mengatakan, ada beberapa hal Program Cetak Sawah yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan melibatkan TNI AD, melalui Kodam dan jajarannya, pada akhirnya gagal alias tidak berjalan. Karena pada dasarnya prajurit TNI AD disiapkan untuk berperang dan masuk militer bukan karena ingin bertani. Selain itu juga feasibilty study yang tidak mendalam dan tidak terukur saat akan memulai program cetak sawah.

"Karena (bertani) memang bukan bagiannya. Selain itu terlihat tidak ada semacam pembinaan dan penyuluhan semacamnya sebagai bekal bagi TNI AD yang terlibat dalam Program Cetak Sawah," ujar Jajang melalui keterangan, Rabu (27/10/2021).

Jajang menilai, pemerintah dalam menjalankan program lumbung pangan masih banyak kelemahan. Contohnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang seharusnya menjadi acuan dasar penyusunan rencana kebijakan dalam praktiknya hanya jadi alat penguat dalam pembukaan lahan. Seperti yang terjadi di Gunung Mas Kalimantan Tengah untuk komoditas singkong, 700 hektar dibuka tanpa adanya analisis dampak lingkungan (Amdal).

Baca Juga: Helikopter TNI AD Bantu Evakuasi Guru dan Warga dari Kiwirok, Papua

"Ditambah keterlibatan TNI AD yang pada dasarnya tidak paham soal pertanian, program ini menjadi semakin salah kaprah," tandasnya.

Jajang pun menyebut, pemerintah seperti tidak mau belajar dari kesalahan sebelumnya, misalnya dalam program cetak sawah yang juga melibatkan militer. Karena memang bukan bidangnya berakibat adanya 17 temuan dan 21 masalah hal ini berakibat kerugian negara miliaran rupiah.

"Terkait program lumbung pangan, kami meminta Presiden Joko Widodo segera mengevaluasi kembali, khususnya keterlibatan militer," tegasnya.

Jajang memaparkan, harusnya pemerintah mendasarkan tujuan dari program lumbung pangan seperti yang dirumuskan, yakni untuk mengatasi krisis pangan dampak Covid-19, soal perubahan iklim, dan ketergantungan impor. Antara tujuan dan praktik menjalankan program sangat tidak nyambung, jadinya salah kaprah.

"Yang terjadi saat ini juga dengan mengabaikan Masalah Amdal justru memperburuk pencegahan perubahan iklim," paparnya.

Terakhir, lanjut Jajang, seharusnya yang dilibatkan penuh adalah masyarakat sipil “kalangan profesional dan lainnya, khususnya petani. Selanjutnya, soal lahan pertanian yang harus dilakukan adalah membantu para petani yang bermasalah dengan alat produksi dan menyelesaikan persoalan ketimpangan lahan, bukan malah memperluas lahan dengan militer.

Baca Juga: Jokowi: Bendungan Bendo Akan Irigasi 7.800 Hektare Sawah

Dalam acara diskusi online bertema "Peran TNI dalam Proyek Food Estate,” Rabu (13/10/2021) kemarin, Direktur Imparsial, Gufron Mabruri mengingatkan pemerintah mempertimbangkan kembali pelibatan TNI AD dalam proyek lumbung pangan atau food estate. Ia mengatakan, pemerintah mesti belajar dari program cetak sawah beberapa tahun lalu. Dalam program itu, TNI AD juga dilibatkan.

Akan tetapi Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK menemukan berbagai masalah dalam program cetak sawah. “Pemerintah mestinya belajar dalam program (cetak sawah dengan) pelibatan militer. Ada 17 temuan BPK yang memuat 21 masalah. Temuan itu misalnya luasan sawah yang belum sesuai ketentuan, dan ada kerugian miliaran. Ini mestinya jadi bahan evaluasi,” kata Gufron.

Katanya, pada batasan tertentu pelibatan militer diperlukan mengatasi eskalasi ancaman. Akan tetapi pelibatan militer harus memenuhi sejumlah hal. Setidaknya ada enam unsur, yakni situasi darurat atau kondisi objektif. Namin dalam kondisi normal, sipil yang harus memegang kendali penuh.

Baca Juga: Jaga Ketahanan Pangan, Kelompok Tani di Kampung Sawah Dikukuhkan

Unsur lain adanya permintaan institusi sipil. Ini untuk memastikan bahwa situasi yang dihadapi di luar kapasitas institusi sipil untuk menanganinya. Berdasarkan keputusan politik otoritas sipil, agar ada legitimasi.

“Ini sebagai bentuk kontrol sipil terhadap militer. Untuk memastikan pertanggungjawaban terhadap publik. Bersifat sementara, gak boleh permanen, proporsional artinya pengerahan militer mesti sesuai tingkat ancaman,” ucapnya.

Ia mengatakan, kini yang menjadi pertanyaan, apa urgensi dan legitimasi pelibatan militer dalam program lumbung pangan yang direncanakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2020 itu.

“Memang sejak awal, program lumbung pangan ini memunculkan banyak kritik terutama dari masyarakat sipil di tingkat nasional hingga daerah,” ucapnya.



Penulis: Yudo Dahono / YUD
Sumber: BeritaSatu.com

#Cetak Sawah #TNI AD #Food Estate #Kementerian Pertanian

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Taliban Terbitkan Dekrit Perlindungan Hak Perempuan

Kapolri: Pertahankan Capaian Positif Penanganan Covid-19

Wapres Resmikan Monumen Pahlawan Covid-19 Jawa Barat

Meski Diadang Pandemi, Exquise Patisserie Tambah Gerai Baru

ERT Putra Perkasa Abadi Juara Umum IFRC 2021

PB ISSI Kirim Atlet Berlatih ke Swiss

Varian Omicron Mengancam Pemulihan Ekonomi Dunia

Mine Perfumery Kembali Berinovasi Abadikan Momen 2021

Prima Protect Plus Bagikan Paket Sanitasi untuk Mitra Grab

Brasil Sudah Vaksinasi Covid 90% Populasi

BERITA TERPOPULER