Festival Panen Raya Nusantara Promosikan Tradisi Pangan Lokal

Jakarta, Beritasatu.com - Beberapa waktu lalu, Konsorsium Panen Raya Nusantara (Parara) menggelar acara festival Panen Raya Nusantara 2021 (Parafest 21) yang berlangsung selama 2-18 Desember 2021.

Festival ini mengangkat tema “Tradisi Pangan Lokal untuk Masa Depan Indonesia” dan bersifat hybrid. Acara ini juga meliputi berbagai kegiatan mulai dari talkshow UMKM, praktik perdagangan hingga bazar. Seluruh kegiatan juga mengikuti aturan serta prosedur Covid-19 yang berlaku di setiap wilayah.

Sequencing Pertama (2 - 4 Desember 2021)

Dalam sambutannya, Ketua Konsorsium Parara Jusupta Tarigan mengatakan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah hingga saat ini, merupakan suatu upaya untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat indonesia secara adil dan merata.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki yang diwakili Riza Damanik juga turut membuka festival ini. Kata pembukaannya menjadi bukti apresiasi dari pemerintah untuk pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Menteri Koperasi dan UKM juga selalu menyampaikan agar kita harus inisiatif untuk mendorong UMKM yang telah berpartisipasi dalam membentuk Indonesia yang ramah lingkungan terutama di tengah pandemi Covid-19.

Adapun sesi talkshow UMKM membahas mengenai perizinan dan juga legalitas dalam melakukan usaha, terutama bagi pemilik usaha mikro. Peserta mempelajari apa saja yang diperlukan ataupun persyaratan bagi mereka yang ingin memulai bisnis UMKM atau pun bagi mereka yang sudah terjun ke dunia UMKM.

Sementara itu, sesi “Selamatkan Tradisi, Pangan Lokal” mengedukasi peserta pentingnya melestarikan tradisi kita sendiri dan pangan lokal. Hadir sebagai moderator Jusupta Tarigan yang juga merupakan direktur eksekutif NTFP-FP Indonesia. Sesi ini juga menghadirkan dua narasumber yang menceritakan pentingnya memelihara tradisi kita dan pangan lokal.

Sesi Fair Trade kemudian membahas  praktik perdagangan yang adil baik di lingkup lokal, regional dan global. Talkshow dimulai oleh Netty Febriana yang merupakan perwakilan dari Forum Fair Trade Indonesia (FFTI). Kemudian dilanjutkan oleh Panchakshara sebagai perwakilan World Fair Trade Organization (WFTO) yang akan membahas perkembangan dan juga kemajuan dari Fair Trade yang berskala Asia.

Dilanjutkan oleh Kepala Eksekutif dari WFTO Tamara yang membahas perkembangan revolusioner WFTO dan sejarah mengenai WFTO.

Sesi terakhir di Festival Parara pada 2 Desember adalah sesi marketplace di mana peserta akan dihadirkan dengan berbagai macam barang lokal yang menarik dari berbagai daerah.

Kemudian, hari kedua Festival Panen Raya Nusantara diawali oleh Sesi Tropenbos yang mana organisasi ini bertujuan untuk memperbaiki sumber daya alam Indonesia serta meningkatkan usaha lokal terkhusus untuk UMKM.

Pada sesi ini, sesi talkshow akan lebih mengarah kepada bagaimana pembiayaan para UMKM terutama di sektor pertanian dan perhutanan.

Dilanjutkan dengan sesi Producer Meets Consumers di mana terdapat demo memasak yang membawakan tema makanan khas adat Krayan dari Kalimantan Utara. Sesi ini mendatangkan masyarakat asli Kalimantan Utara dan Chef Ragil Imam Wibowo. Diketahui, Ragil merupakan Chef Owner of Nusa Indonesian Gastronomy.

Sesi KUPS menceritakan awal mula kelompok bernama Jaso Mande membuka peluang usaha untuk menjual tepung beras. Dimulai dari faktor pekerjaan yang mana delapan puluh lima persen masyarakat berprofesi sebagai petani padi sawah hingga visi dan misi untuk menciptakan sumber daya wanita yang mandiri.

Sesi terakhir yakni Penjaminan membahas mengenai topik PGS. Adapun PGS merupakan pemberian jaminan dari kelompok tani organik dalam mengelola, produksi dan pemasaran produk pertaniannya secara standar nasional Indonesia (SNI).

Hari ketiga kemudian dimulai dengan "KPAM (Koperasi Produsen Aman Mandiri) Pendanaan dan Usaha Komunitas Adat". Sesi ini membahas modal pendanaan atau permodalan yang mudah diakses. Termasuk jenis usaha yang bisa dikembangkan masyarakat adat dan komunitas lokal.

Berikutnya adalah talk show "Jaga Laut, Jaga Kehidupan. Kiara" yang menghadirkan diskusi pentingnya menjaga ekosistem laut. Diikuti dengan sesi "Parara Stokis" yang bertemakan ‘’Semakin Dekat Semakin Sehat’’. Di akhir sesi ini, peserta bisa mengikuti kuis untuk mendapatkan hadiah produk Parara.

Lalu, ada Parara Baking Hour yang menampilkan video resep memasak menggunakan Lokal Gluten Free Flour. Dibawakan oleh chef dan owner Cakes Studio Cut Dewi, sesi ini membimbing penonton untuk membuat resep makanan yang enak dan sehat.

Sesi Pasar Online menampilkan berbagai produk Parara yang dijual langsung lewat Zoom Youtube dan Instagram. 

Sesi berikutnya adalah sesi Pasar Rakyat dari Kampung Adat yang merupakan sesi penjualan online berupa produk dari Toraja. Sesi ini dibawakan oleh host dari Gerai Nusantara Susi Situmorang.

Di sesi terakhir hari ke-4 ini ditutup dengan tips and trik dan pembelajaran membatik dengan menggunakan pewarna alami. Serta pengenalan macam-macam batik dan pewarna alaminya.

Sequencing ke-2 (11-12 Desember 2021)

Sequencing ke-2 diawali dengan sesi demo masak dengan mengangkat tema "Tradisi Pangan Lokal Untuk Masa Depan Indonesia". Makanan yang dipresentasikan membawa unsur bahan asli dari Sulawesi Tenggara. Lalu acara akan dilanjutkan dengan membawakan tarian tradisional asli Kalimantan yang merupakan persembahan dari Talino Raya Benuang.

Dilanjutkan dengan sesi talkshow membawa topik, “Mendorong Pemanfaatan HHBK dan Pertanian untuk ketahan pangan” guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem pertanian kita. Terdapat pula sesi Parara Baking Hour dengan menggunakan bahan dasar sorgum dan gluten-free.

Hari esok kemudian diawali dengan bazar virtual serta talkshow Merauke yang menampilkan kekayaan flora fauna Papua khususnya Merauke. Serta budaya Tokok Sagu, kegiatan Pangkur Sagu, panen ubi kayu atau singkong, dan berbagai jenis tumbuhan yang bermanfaat sebagai sumber pangan di Merauke.

Lalu dimeriahkan dengan sesi coaching fotografi untuk meningkatkan antusiasme peserta lomba fotografi yang diadakan oleh Festival Parara. Di akhir acara, terdapat sesi Jelajah Bali bersama komunitas JendraNath. Sesi ini berlangsung live di Bali dengan mengangkat tema cerita pangan lokal dan tari-tarian.

Sequencing ke-3 (17-18 Desember 2021)

Acara diawali dengan sesi kolaborasi bersama Binus University yang membahas penguatan branding dan media sosial untuk pemasaran. Di sini, mahasiswa-mahasiswa Binus memberi presentasi tentang UMKM lokal dan menjelaskan mengenai teknik pemasaran yang akan mereka implementasi.

Kemudian terdapat talkshow Inspirasi dari Timur yang membahas topik “Sumber Pangan untuk Daulat Pangan”. Lalu, sesi terakhir adalah pemutaran film lokal yaitu Sejengkal (A Little Twist) yang dijadikan lomba review film.

Di hari kedua sequencing ke-3, acara dimulai dengan live music performance. Dilanjutkan dengan sesi jelajah rempah nusantara dari timur. Terdapat pula pemutaran video dan talkshow cita rasa kopi masyarakat adat.

Sesi berlanjut dengan pembuatan masker berbahan dasar kain tenun. Kemudian, diadakan kembali Parara Baking Hour ke-3 dengan membagikan tips and trick mengenai berbahan dasar sagu. Sesi lalu diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba Fotografi yang dibawakan sendiri oleh Bibong.



Penulis:  / JNS
Sumber: PR

#Parafest 21 #Pangan Lokal #Festival Panen Raya Nusantara

BAGIKAN

BERITA TERKINI

Mahasiswa UMB Perkenalkan Public Speaking ke Siswa SMK

Terobosan Ketua BTN Tingkatkan Prestasi Esport Indonesia

Kedekatan Erick Thohir dengan NU, Ini Pandangan Pengamat

Pekan Ini Mobil Formula E Bakal Dipamerkan di Bundaran HI

Jepang Buka Kembali Negaranya untuk Turis dari 36 Negara

Teaser Film Horor Jagat Arwah Sedot 1,4 Juta Penonton

Panitia: Iklan Bir di Formula E Jakarta Sponsor Global FEO

Data Kasus Positif dan Kematian Covid-19 di Jakarta sampai 26 Mei 2022

Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 26 Mei 2022

Hepatitis Akut Dapat Dicegah, Waspadai Gejala Awal Ini

BERITA TERPOPULER