Guru Besar UI Puji Diplomasi Jokowi Pertahankan Keutuhan G-20

Jakarta, Beritasatu.com – Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana memuji langkah diplomatik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky sekaligus memastikan kehadiran Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam KTT G-20 di Bali. Langkah diplomatik Jokowi tersebut dinilai sebagai langkah strategis mempertahankan keutuhan G-20.

“Ini wujud tanggung jawab Indonesia sebagai pemegang mandat Presidensi G-20,” kata Hikmahanto Juwana dalam keterangannya, Minggu (1/5/2022).

Baca Juga: Jokowi Undang Zelensky ke KTT G-20, Hikmahanto: Untuk Pastikan Kehadiran AS

Tidak hanya itu, Hikmahanto juga menilai langkah yang dilakukan Jokowi merupakan suatu bentuk kompromi atas tekanan dari AS dan sekutunya maupun dari Rusia yang terindikasi sama-sama memanfaatkan forum G-20 sebagai perpanjangan konflik mereka.

“Undangan ini lebih baik daripada memenuhi permintaan yang tinggi dari AS untuk mengeluarkan Rusia dalam forum G-20,” ujar Hikmahanto Juwana.

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Indonesia Siap Bantu Damaikan Rusia-Ukraina

Menurut Hikmahanto undangan Presiden Jokowi kepada Ukraina dapat diterima oleh Rusia. Hal ini karena kehadiran Ukraina dalam KTT G-20 bukan sebagai negara anggota. Dengan demikian, kata Hikmahanto, AS dan negara sekutunya tidak punya alasan lagi untuk memboikot KTT G-20 bila Rusia hadir.

“Intinya dengan undangan ke Ukraina semua kepala pemerintahan dan kepala negara G-20 akan hadir dan membahas persoalan penting dunia yaitu pertumbuhan ekonomi dunia dan pelestarian lingkungan,” tegas Hikmahanto.

Baca Juga: Pasukan Rusia Jarah Ratusan Ribu Ton Bahan Pangan Ukraina

Apresiasi selanjutnya patut diberikan kepada Presiden yang menolak dengan tegas permintaan bantuan berupa senjata dari Presiden Zelensky. Presiden dengan tepat melakukan penolakan permintaan atas dasar konstitusi dan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

"Preambul UUD 1945 menyebutkan salah satu alasan dibentuknya pemerintah adalah untuk ikut dalam ketertiban dunia. Sikap Indonesia untuk tidak membantu dalam hal persenjataan adalah langkah yang tepat," ujarnya.

Bantuan-bantuan seperti itu dikatakannya justru memperburuk situasi, bahkan perang justru bereskalasi. Saat ini dikhawatirkan perang telah bergeser tidak lagi antara Rusia dengan Ukraina, melainkan meluas jauh.

“Sayangnya Ukraina hanya dijadikan medan perang tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan rakyat Ukraina,” ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi, dalam video yang dirilis Biro Pers dan Media Istana Negara, menjelaskan telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan mengundang untuk hadir dalam KTT G-20.

Beberapa hari kemudian, Presiden Jokowi juga berkomunikasi langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan memperoleh kepastian akan kehadirannya di Bali nanti.

Dalam penjelasannya, Presiden Jokowi menekankan perdamaian dan stabilitas merupakan kunci bagi pemulihan dan pembangunan ekonomi dunia.

“Indonesia ingin menyatukan G-20, jangan sampai ada perpecahan,” kata Jokowi.



Penulis: Lenny Tristia Tambun / FFS
Sumber: BeritaSatu.com

#Jokowi #G-20 #Rusia #Ukraina #Presidensi G-20

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Listrik PLN Kini Terangi Kampung Boldon di Papua Barat

Tiba di Kyiv Ukraina, Misi Perdamaian Jokowi Dimulai

Airlangga Hartarto Bahas Sepak Bola Bersama Ronaldinho

Bantuan untuk Korban Banjir Pamijahan Terkendala Medan

Analis Bloomberg Prediksi Pendapatan SILO Terus Tumbuh pada Tahun Ini

Ke Ukraina Bawa Misi Perdamaian, Jokowi: Semoga Dimudahkan

Konstitusi Uzbekistan Jamin Perlindungan Hak Warga Negara

Malaysia Open: Tekuk Duet Tiongkok, Ahsan/Hendra ke 16 Besar

KPK Usut Dugaan Penggunaan Tanah Warga untuk IMB Summarecon

Unik! Pedagang Hewan Kurban di Depok Jual Domba Tanduk Empat

BERITA TERPOPULER