Soal Bahaya Virus Hendra, Ini Respons dari Kemenkes

Jakarta, Beritasatu.com - Kemenkes menyatakan masih menunggu perkembangan kasus dari virus Hendra yang berasal dari kelelawar pemakan buah. Seperti diketahui virus Hendra saat ini menjadi perhatian dunia karena sejak dilaporkan pada tahun 1994 silam, virus Hendra tercatat memiliki angka kematian di atas 50% baik pada hewan maupun pada manusia. Virus Hendra ini berasal dari kelelawar pemakan buah dengan korban terpapar paling banyak dilaporkan pada hewan kuda.

Merespons munculnya virus itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Syahril mengatakan hingga saat ini belum ada data yang berkaitan virus Hendra di Indonesia.

"Belum ada data berkaitan dengan virus Hendra. Tunggu saja dulu nanti bila ada perkembangan," kata Syahril saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (21/5/2022).

Baca Juga: Cegah Penularan Virus Hendra, Ini Saran dari Pakar

Sebelumnya, guna mencegah virus Hendra menular kepada manusia, epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman menyarankan harus ada keseimbangan kesehatan melalui program ketahanan kesehatan global untuk mencegah dunia dari ancaman penyakit menular dan karakter virus yang terus berubah.

“Mengingat bahaya dari virus ini, kita bisa belajar varian baru sudah ditemukan sebetulnya mengangkat satu urgensi bahwa harus ada kerja sama program regional yang ekstensi tentang by security yang berkaitan dengan one health security. Jadi bukan hanya di manusia tetapi di hewan. Bisa kita lihat bagaimana perubahan karakter virus,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (20/5/2022).

[#pagebreak#]

Dalam konteks Indonesia, Dicky menuturkan daerah Nusa Tenggara memiliki banyak ternak kuda yang mencari makan di alam liar dekat dengan kelelawar bersarang. Dengan begitu, rumput atau tanaman yang dimakan oleh kadu tersebut tercemar oleh kotoran kelelawar ini akhirnya menginfeksi kuda.

Ke depannya, Dicky menuturkan sebagai langkah antisipasi harus mempertimbangkan lokasi perternakan karena adanya virus baru maupun penyakit baru yang lahir, karena umumnya ada kontak antara hewan dan rentan dengan manusia, yakni peternak.

“Ini berarti harus ada pengamatan dan surveilans yang rutin juga memberikan literasi yang rutin pada para peternak atau masyarakat kita yang hidupnya dekat dengan alam liar atau hewan ini,” ucapnya.

Selain itu, Dicky juga mendorong agar prosedur pengemasan makanan yang berasal dari produk hewan kualitasnya perlu ditingkatan.

Baca Juga: Epidemiolog Ingatkan Bahaya dari Virus Hendra dan Nipah

Selanjutnya, Dicky menyarankan pemerintah untuk mewaspadai dan mengamati serta melakukan skrining terutama kedatangan wisatawan dari negara yang saat ini ditemukan kasus virus Hendra ataupun wabah lainnya.

Dicky juga menuturkan penggunaan masker sangat penting di fasilitas umum seperti bandara oleh penumpang maupun para petugas bandara untuk mencegah penularan. Selain itu, skrining dan fungsi karantina kesehatan harus ditingkatkan terus kualitasnya termasuk sumber daya manusia (SDM).

“Skrining suhu ini bukan hanya untuk Covid-19 tetapi masa pandemi mengajarkan pada kita sistem deteksi dini, sehingga skrining harus ada dan diperkuat karena ketika ada demam harus curiga sampai dinyatakan flu biasa,” pungkasnya.



Penulis: Maria Fatima Bona / YUD
Sumber: BeritaSatu.com

#Virus #Virus Hendra #Kemenkes

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Unik! Pedagang Hewan Kurban di Depok Jual Domba Tanduk Empat

Tarif ke Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Bikin Resah

Pengamat Ingatkan Waspada Potensi Krisis Ekonomi seperti Sri Lanka

KPK Pertanyakan ICW yang Hanya Ungkit Harun Masiku

Transisi Pandemi, Perekonomian Nasional dan DKI Akan Melesat

Cakupan Rendah, Bulan Imunisasi Anak Nasional Digelar

UGM dan Kemenkominfo Kolaborasi KKN-PPM Literasi Digital

Saat Ahok, Bima Arya, dan Airin Berkelakar soal Pilkada DKI

Cara Klaim Asuransi Mobil kalau Terlibat Tabrakan Beruntun

Ratusan Tenaga Kesehatan Profesional Ditempatkan di Arab Saudi

BERITA TERPOPULER