Legalisasi Ganja di Indonesia, Ini Respons Mabes Polri

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri menanggapi viralnya foto seorang ibu di media sosial karena membawa poster bertuliskan membutuhkan ganja medis untuk pengobatan anaknya saat hari bebas kendaraan, di Jakarta, Minggu (26/5/2022).

Direktur Tindak Pidana (Dirtipid) Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Krisno Halomoan Siregar mengatakan, usulan terkait melegalkan ganja untuk kepentingan medis harus melalui proses persetujuan Menteri Kesehatan atas rekomendasi BPOM.

Hal tersebut berdasarkan bunyi Pasal 8 Ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Saat ini, Polri sebagai penyidik tindak pidana narkotika berpedoman kepada ketentuan Pasal 8 Ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika," kata Krisno melalui keterangannya, Rabu (29/6/2022).

Baca Juga: Ganja Medis, Legislator: Sikapi dengan Kehati-hatian

Dikatakan Krisno, berdasarkan UU tersebut, ganja sebagai salah satu bentuk narkotika golongan I. Artinya, dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

"Saya tidak mau mendahului untuk membuat prediksi apakah kasus penyalahgunaan meningkat manakala ganja dilegalkan untuk kepentingan medis, meskipun bisa saja terjadi demikian," ucapnya.

Perwira tinggi Polri itu mengatakan, belum ada persiapan apapun terkait wacana ganja dilegalkan untuk kepentingan medis. Polri sebagai alat negara penegak hukum tentunya wajib menggunakan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

"Sampai sejauh ini, Indonesia masih menjadi salah satu negara di PBB yg menolak legalisasi ganja," imbuhnya.

Baca Juga: Pemerintah Kaji Legalitas Ganja untuk Keperluan Medis

Sebelumnya viral di media sosial unggahan foto yang menampilkan seorang ibu membawa poster bertuliskan butuh ganja medis saat hari bebas kendaraan atau CFD di Bundaran HI, Minggu (26/6).

Foto ibu yang meminta ganja medis ini awalnya diunggah di akun Twitter penyanyi Andien Aisyah yakni @andienaisyah.

Ibu yang diketahui bernama Santi itu mengaku mempunyai anak bernama Pika yang menderita penyakit cerebral palsy (kelumpuhan otak). Menurut sang ibu, obat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah minyak biji ganja alias CBD Oil.

Sementara itu, pemerintah berencana untuk mengkaji legalitas ganja untuk keperluan medis. Pemerintah hendak mengkaji lebih lanjut hal positif dan negatif dari ganja medis.

"Pemerintah akan mempelajari terlebih dahulu mengenai legalitas ganja untuk tujuan medis. Akan dilihat baik buruknya," kata Kabag Humas Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Tubagus Erif Faturahman dalam keterangannya, Rabu (29/6/2022).

Dikatakan Tubagus Erif, pemerintah akan meminta pandangan para ahli di bidang kesehatan, sosial, agama, dan lainnya untuk mengkaji hal positif dan negatif dari ganja medis.



Penulis: Stefani Wijaya / JAS
Sumber: BeritaSatu.com

#Ganja #Ganja Medis #Legalisasi Ganja #Mabes Polri

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Georgia Tolak Ikut Perang Lawan Rusia dan Siap Sambut Turis

Langgar Kode Etik Kasus Brigadir J, 16 Polisi Ditempatkan di Tempat Khusus

Arsenal vs Leicester City: Meriam London di Atas Angin

Ujian Perdana AC Milan di Stadion San Siro Lawan Udinese

Tanpa Sekolah, Masa Depan Anak Perempuan Afghanistan Tak jelas

Koalisi Gerindra-PKB Pastikan Tak Ada Nama Selain Prabowo dan Cak Imin

Ekspansi, Interior Mobil Hardy Classic Buka Workshop di BSD

Jerman Tolak Paspor Baru, Imigrasi Koordinasi ke Kemenlu

Koalisi Gerindra-PKB Bawa Kesejukan bagi Rakyat Indonesia

KPK Tidak Ungkap Rumah yang Disambangi Mukti Agung di Jaksel

BERITA TERPOPULER