Tarif ke Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Bikin Resah

Jakarta, Beritasatu.com - Para pelaku usaha pariwisata di kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) resah oleh kabar akan adanya kenaikan tarif wisatawan ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi Rp 3,75 juta per orang mulai 1 Agustus 2022 mendatang.

Keresahan itu dilandasi sejumlah alasan. Pertama, mereka khawatir jumlah wisatawan bakal melorot. Berkurangnya wisatawan bakal berdampak juga pada penghidupan masyarakat pariwisata Manggarai Barat.

Kedua, lesunya pariwisata bisa membuat investor hengkang.

Grafis Taman Nasional Komodo, NTT.

Ketiga, tidak semua wisatawan adalah kalangan menengah ke atas. Wisatawan manca negara pun sebagian adalah backpacker yang bekalnya cekak.

Keempat, kebijakan dari pemerintah pusat dan dari Pemerintah Provinsi NTT tersebut merupakan kebijakan top down alias tidak mengikut sertakan masyarakat pariwisata setempat dalam perencaanaan.

Kelima, pandemi yang melandai seharusnya menjadi kesempatan pemulihan pariwisata di Manggarai Barat. Namun momentum ini justru dihajar oleh rencana penaikan tarif masuk TN Komodo.

Keresahan tersebut diungkapkan pengamat sekaligus praktisi pariwisata Labuan Bajo pastor Marsel Agot SVD dan Galih Achmad Lazaroni dari Labuan Bajo Trip secara terpisah kepada Beritasatu.com, Rabu (29/6/2022).

Marsel Agot malah mengaku sudah mengirim pesan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar.

Ia sangat terkejut dengan keputusan baru Kementrian LHK dan Pemprov NTT. Tanpa sosialisasi kepada masyarakat, kebijakan baru langsung diterapkan Agustus 2022.

“Tiket masuk pulau Padar dan Loh Liang sangat, sangat, sangat mahal. Betapa tidak. Tiket ke Padar Rp 3.700.000, demikian juga tiket ke Loh Liang. Berapa banyak wisatawan yang bisa membeli tiket super mahal tsb?” demikian salah satu bagian dari pesan Marsel kepada Menteri Siti Nurbaya yang dikirim Rabu (29/6/2022).

Disebutkan, tiket Rp 3,7 juta per orang tersebut berlaku untuk setahun. Artinya, selama jangka setahun setelah pembelian tiket, seorang wisatawan boleh datang ke TNK berkali-kali tanpa harus membayar tiket masuk lagi.

“Tapi kan jarang orang mau datang berkali-kali ke sini dalam setahun. Kalau dia ada uang (mampu membeli tiket seharga Rp 3,7 juta), dia kan pasti mikir juga untuk datang lagi karena perlu tiket pesawat, hotel, lalu kapal dari Labuan Bajo ke TNK dan lainnya,” ungkap Marsel Agot.

Pastor Marsel Agot selama ini dikenal juga sebagai tokoh masyarakat Manggarai barat, pekerja kemanusiaan dan penyelamat lingkungan.

Pada 1980-an ia mulai menanam jutaan pohon terdiri dari 13 jenis pohon dan membuat hutan buatan dengan menanam sekitar 5.000 pohon yang kini diserahkan kepada STKIP St Paulus-Ruteng.

Marsel Agot juga aktif dalam pergerakan masyarakat menolak tambang di wilayah Manggarai, Pulau Flores, NTT.

Marsel yang juga mengelola penginapan untuk turis, mengungkapkan, wisatawan di Labuan Bajo mayoritas backpaker. Tarif sebesar itu bakal memberatkan.

Logis bila muncul kekhawatiran kenaikan tarif akan mematikan pariwisata Manggarai Barat. Selanjutnya akan terjadi banyak pengangguran.

Selain itu, Marsel Agot menyayangkan ketiadaan sosialisasi kebijakan tersebut.

“Di satu sisi masyarakat setuju kebijakan pelestarian alam di Labuhan Bajo. Kami setuju kelestarian alam tidak hanya dijaga oleh pemerintah pusat melainkan juga pemerintah daerah, tetapi perlu ada sosiasalissi ke masyarakat, apa lasannya. Jangan (kebijakan) top down,” katanya.

Tiket mahal tersebut menurut Marsel Agot membuat TNK hanya untuk wisatawan kaya. “Kasihan wisatawan biasa,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Galih Achmad Lazaroni dari Labuan Bajo Trip yang sudah 3,5 tahun menggeluti dunia pariwisata Labuan Bajo.

“Siapa yang mampu bayar tiket sebesar itu. Otomatis nanti akan berpengaruh pada para pemilik kapal. Investor yang sudah menanamkan inevstasinya di Labuan Bajo pasti hengkang. Kalau Labuan Bajo sepi (wisatwan) pasti mereka hengkang,” kata

Ia menggambarkan wisman berkurang drastis saat pandemi. Meski demikian, pariwisata di kawasan timur Indonesia ini tertolong oleh kehadiran wisatawan dalam negeri.

“Saat pandemi masih ada wisatawan kita. Kalau saat pandemi, pasar wisatawan bule-bule drop (jumlah turun drastis). Kalau wisatawan lokal kami rasakan hanya pada tiga bulan pertama pandemi drop, setelah itu ada saja tamu mengalir,” katanya.

Kini setelah pandemi sudah berangsur menurun justru muncul rencana kebijakan baru.

“Yang pasti sih kami 100 persen menolak bila wisatawan dikani tarif sebesar otu,” katanya.

“Selama ini seperti cek ombak. Masih wacana belum ada surat hitam di atas putih dari pemerintah. “Sosiliasai lewat jalur online sudah lama sekitar satu tahun lalu,” katanya.

Galih berpendapat bahwa melestarikan alam adalah hal penting. Namun demikian kesejahteraan warga juga tak kalah penting.



Penulis: Dwi Argo Santosa / DAS
Sumber: BeritaSatu.com

#Taman Nasional Komodo #Tarif ke Pulau Komodo #Tarif ke TN Komodo #Berapa Tarif Masuk TN Komodo

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

Tanpa Sekolah, Masa Depan Anak Perempuan Afghanistan Tak jelas

Koalisi Gerindra-PKB Pastikan Tak Ada Nama Selain Prabowo dan Cak Imin

Ekspansi, Interior Mobil Hardy Classic Buka Workshop di BSD

Jerman Tolak Paspor Baru, Imigrasi Koordinasi ke Kemenlu

Koalisi Gerindra-PKB Bawa Kesejukan bagi Rakyat Indonesia

KPK Tidak Ungkap Rumah yang Disambangi Mukti Agung di Jaksel

Restoran McDonald's Akan Buka Gerai Lagi di Ukraina

Festival Danau Sentani Akan Dilaksanakan pada Oktober 2022

KPK Ungkap Alasan Tak Jerat Anggota DPR yang Diduga Ditemui Mukti Agung

PSI Dinilai Punya Potensi Perkuat Koalisi Indonesia Bersatu

BERITA TERPOPULER