Rossi Pergi, Yamaha Langsung Dapat Trofi

Beritasatu.com - Musim pertama tim MotoGP Yamaha tanpa Valentino Rossi belum lagi usai, tetapi mereka sudah memastikan gelar juara dunia lewat pembalap muda Fabio Quartararo.

Selama 14 tahun Yamaha dan Rossi terikat dalam hubungan saling membutuhkan, tetapi seiring bertambahnya usia si pembalap Italia, mereka juga saling menyadari kalau ikatan itu sulit membuahkan hasil manis di trek. Makin bertambah tahun, makin kecil prospeknya.

Sejak kubu rival Honda mendatangkan pembalap berbakat Marc Marquez musim 2013, sejak itu pula “kutukan” terhadap ikatan Yamaha-Rossi dimulai.

Bahkan, pada akhir musim 2015 ketika Marquez sudah tidak berpeluang juara dunia, Rossi yang memimpin klasemen tidak bisa mempertahankan posisinya di balapan terakhir di Valencia. Dia dihukum start paling belakang karena pada balapan sebelumnya di Malaysia dinyatakan bersalah menjatuhkan Marquez.

Bagi Yamaha, hasil 2015 tetap disyukuri karena Jorge Lorenzo yang menyalip Rossi di klasemen akhir.

Bisa dibayangkan situasi internal Yamaha ketika itu. Mereka seharusnya berpesta menyambut datangnya trofi, tetapi harus menjaga perasaan pembalap di garasi sebelah yang muram dan murka karena merasa dikerjai oleh sistem.

Bagi Rossi, musim 2015 menjadi kesempatan terakhirnya untuk merengkuh titel, dan Yamaha juga tahu itu.

Uniknya, masing-masing pihak tidak ada yang berani memulai kalimat selamat tinggal.

Solusi
Yamaha butuh Rossi sebagai ikon marketing global yang tiada duanya. Tanpa prestasi pun, Rossi masih memiliki basis pendukung ratusan juta orang di seluruh dunia.

Rossi butuh Yamaha karena di usianya sulit untuk berlabuh ke tim papan atas lainnya. Ingat, dia pernah dua tahun meninggalkan Yamaha untuk bereksperimen di Ducati dan tetap disambut hangat saat kemudian pulang lagi.

Solusi terbaik bagi Yamaha adalah mencari “pembalap kedua” yang lebih muda dan lebih berpotensi menang, setara Lorenzo yang akhirnya memilih hengkang dari tim itu.

Mereka mencoba Maverick Vinales, yang tampil ekspresif pada debutnya. Sayangnya, Vinales tidak konsisten dan penampilannya justru memburuk ketika musim balapan masuk babak penentuan.

Vinales jauh dari yang diharapkan untuk bisa membendung dominasi Marquez. Justru, Rossi lebih sering menduduki peringkat lebih baik di klasemen akhir daripada Vinales.

Semakin ke sini, semakin Yamaha menyadari bahwa titel juara dunia merupakan alat marketing yang lebih ampuh daripada kharisma individu.

Valentino Rossi (MotoGP.com)

Akhirnya, Yamaha dan Rossi mencapai solusi sempurna yang tidak menyinggung perasaan masing-masing tahun lalu.

Mulai musim 2021, Rossi keluar dari tim utama, tetapi masih menunggangi motor Yamaha di tim satelit Petronas SRT. Ini pertama kalinya dalam 20 tahun Rossi membela tim satelit.

Selain itu, Yamaha secara terbuka menjanjikan ke Rossi bahwa meskipun dia berada di tim satelit, dia berhak mendapat spesifikasi motor, kru, dan fasilitas tim utama.

Pesannya jelas: Rossi bukan pembalap Yamaha, Rossi adalah “anak Yamaha”.

Dia toh sudah menyumbangkan empat titel juara dunia untuk Yamaha, lebih banyak dari pembalap mana pun yang pernah membela tim garpu tala.

Quartararo
Solusi yang baik membuahkan hasil yang baik.

Sebagai pengganti Rossi, Quartaro menjalani tahun pertamanya di tim utama Yamaha dengan memberikan trofi juara dunia, bahkan ketika musim 2021 masih menyisakan dua balapan lagi.

Keunggulannya di klasemen mencapai 65 poin, sinyal bahwa dia tidak sekedar menang, tetapi mendominasi musim ini. Angka itu bisa bertambah jika Quartararo memenangi dua seri terakhir.

Pembalap Yamaha Fabio Quartararo merayakan keberhasilan menjadi juara dunia MotoGP bersama timnya di Misano, Italia, 24 Oktober 2021. (Yamaha MotoGP)


Di klasemen tim, Monster Energy Yamaha MotoGP juga kembali ke posisi teratas, sementara untuk klasemen konstruktor pabrikan Yamaha di posisi kedua.

Yamaha berhak mengklaim suskes sepenuhnya, karena Quartararo adalah didikan mereka juga di tim satelit Petronas.

Bukan hanya para petinggi tim, Presiden dan CEO Yamaha Motor Yoshihiro Hidaka akhirnya ikut melampiaskan rasa lega setelah puasa gelar selama enam tahun.

“Saya ingin mengucapkan selamat dengan sepenuh hati kepada Fabio. Kami sudah tahu sebelumnya kalau dia pembalap luar biasa yang paham bagaimana memaksimalkan kinerja terbaik motor YZR-M1 dan menebarkan kemampuan Yamaha dalam berpikir besar dan bermimpi besar – dan sekarang dia sudah mewujudkan mimpinya sendiri lewat kerja keras, semangat, dan balapan yang menarik dan bersih,” tulis Hidaka.

Tidak lupa dia menyelipkan “pesan sponsor”.

"Yamaha Motor Company lahir dengan ‘racing DNA’, dan DNA ini juga tercermin di produk konsumen kami. Yamaha punya tujuan jelas musim ini: kami bertekad kembali ke puncak balapan Grand Prix sepeda motor”.

Sejak terjun di MotoGP, Yamaha sekarang telah merengkuh 18 titel juara dunia pembalap, termasuk dari Quartararo (1), Lorenzo (3), Rossi (4), Wayne Rainey (3), Eddie Lawsom (3), Kenny Roberts (3), dan Giacomo Agostini (1).

Di usianya yang baru 22 tahun dan dengan bakatnya yang luar biasa, pembalap Prancis itu sangat berpeluang untuk menjadi pembalap terhebat Yamaha sepanjang masa.

Yamaha menyebutnya sebagai pembalap yang komplet: cepat, matang, dan heroik.

Dia memulai debut di trek lewat ajang Moto3 saat masih berusia 15 tahun pada musim 2015, ketika batasan usia pembalap 16 tahun dihapus.

Baru menginjak balapannya yang kedua, dia sudah finis podium di Circuit of The Americas, Texas. Sayangnya di penghujung musim dia cedera engkel dan menghambat kinerjanya, meskipun masih mampu finis ke-10 di klasemen akhir.

Musim 2017 kinerjanya merosot, demikian juga waktu naik kelas ke Moto2 tahun berikutnya.

Nyaris hilang dari radar, El Diablo, julukan Quartararo, mengejutkan pemerhati MotoGP saat bergabung dengan Petronas Yamaha pada 2019.

Sepanjang musim itu, dia finis podium tujuh kali dan merebut pole position enam kali. Dia mendapat penghargaan Rookie of the Year, menjadi juara untuk kategori Independent Riders’ Championship, dan finis kelima di klasemen akhir MotoGP.

Musim 2020 yang sempat tertunda karena pandemi dia awali dengan dua kemenangan beruntun di Jerez, Spanyol. Lalu menang lagi di Catalunya.

Tim utama Yamaha makin yakin bahwa tempatnya bukan di tim satelit.

Saat itu masih ada satu kekurangannya: konsistensi. Di penghujung musim kinerjanya melorot dan gagal menjadi juara dunia.

Namun, bagi Yamaha kecepatan yang dia tunjukkan sudah cukup. Dengan fasilitas dan spesifikasi motor tim utama, Quartararo adalah calon juara dunia yang sangat potensial.

Tebakan Yamaha tidak salah. Begitu direkrut untuk menggantikan Rossi, tahun pertama langsung sukses membuahkan trofi, “dan cara dia melakukannya terlihat begitu mudah”, ulas Yamaha di situs resminya.

Yamaha mencoba untuk tidak memberi banyak tuntutan dan tekanan padanya di debut tim utama.

Di balapan pertama 2021, dia finis kelima.

“Bagi tim itu sudah memuaskan, tetapi bagi Quartararo, tidak,” kata Yamaha.

Pada balapan kedua di Doha, Qatar, El Diablo menang untuk pertama kali bersama tim utama Yamaha.

Mendadak, mimpi besar Yamaha untuk kembali ke papan teratas mulai bersemi kembali. Balapan berikutnya di Portimão dia menang lagi. Lalu saat di Jerez, seharusnya dia mampu mencetak hattrick tetapi gangguan getaran tangan atau chronic exertional compartment syndrome (CECS) mengganggu kinerjanya saat dia di posisi terdepan di paruh balapan.

CECS adalah gangguan fisik yang kerap dialami pembalap sepeda motor dan bisa diatasi dengan operasi ringan.

Pekan berikutnya pasca-operasi, dia langsung kembali ke trek dan mampu finis di urutan tiga.

Di sejumlah sirkuit yang kerap menjadi momok Yamaha, Quartaro bisa mengeksploitasi motornya secara maksimal lewat kemenangan di Mugello (Italia) dan podium ketiga di Sachsenring (Jerman).

Di Assen (Belanda), dia kembali menang sementara Viñales finis kedua, pertama kali Yamaha bisa finis 1-2 sejak Grand Prix Argentina 2017.

Paruh kedua musim ini dimulai dengan hambatan cuaca dan insiden yang membuat Quartararo gagal menang di sejumlah balapan. Dia juga membalap dengan lebih hati-hati untuk mempertahankan posisi di puncak klasemen.

Baru di Inggris, dia kembali ke puncak podium dengan mendominasi balapan di Sirkuit Silverstone.

Pada tiga balapan setelah itu, orientasinya berubah untuk menjaga peluang sebagai juara dunia dan tidak memburu kemenangan setiap seri.

Strateginya menunjukkan tipe pembalap yang matang, meskipun baru tahun pertama membela sebuah tim utama.

Di Misano, Italia, akhir pekan lalu, Quartararo mengunci titel juara dunia meskipun hanya finis keempat.

Dia bukan hanya kencang, tetapi juga konsisten dan matang.

Sejauh ini, dia sudah memberi lima kemenangan, 10 hasil podium, lima pole position, lima putaran tercepat dalam balapan, dan satu trofi juara dunia untuk tim utama Yamaha.

Dan masih ada dua balapan tersisa tahun ini.

“Apa yang membuat Quartararo bisa benar-benar menggantikan idolanya Rossi merupakan ‘resep rahasia’,” tulis Yamaha.

“Musim ini dia mampu terus menerus menjaga fokus, menunjukkan tekad dan ketenangan, dan secara konsisten bisa menghasilkan poin bahkan pada ‘hari-hari sialnya’ dengan menikmati balapan di atas motor.”

Tim Yamaha Moto GP merayakan keberhasilan Fabio Quartararo menjadi juara dunia MotoGP di Misano, Italia, 24 Oktober 2021. (Yamaha MotoGP)



Penulis: Heru Andriyanto / HA
Sumber: BeritaSatu.com

#Yamaha MotoGP #Fabio Quartararo #Valentino Rossi #MotoGP #Misano

BAGIKAN

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

PB ISSI Kirim Atlet Berlatih ke Swiss

Varian Omicron Mengancam Pemulihan Ekonomi Dunia

Prima Protect Plus Bagikan Paket Sanitasi untuk Mitra Grab

Brasil Sudah Vaksinasi Covid 90% Populasi

Pemberdayaan Masyarakat, PT TCM Gandeng ISSF

Bus Terbakar di Tol Semarang-Solo

Pemerintah Siapkan Bonus untuk Tim Piala Thomas 

Iran Nyatakan Tuntutan Kesepakatan Nuklir

Kongres JKPI Tetapkan 8 Ibu Kota Kebudayaan

Airlangga Apresiasi Polri Dukung Kebijakan Pemerintah

BERITA TERPOPULER